
Pupuk Indonesia merealisasikan ekspor 47.250 ton urea ke Australia melalui kapal MV Medi Luna. (Foto: Dok. Pupuk Indonesia)
UPDATEYUK -
PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat posisinya di pasar internasional dengan merealisasikan ekspor pupuk urea ke Australia. Sebanyak 47.250 ton urea berhasil dikirim dan tiba di Pelabuhan Brisbane, Queensland, sebagai bagian dari kerja sama strategis antara Indonesia dan Australia di sektor ketahanan pangan.
Pengiriman tersebut menjadi tahap awal dari target ekspor urea sebesar 250.000 ton hingga akhir 2026. Langkah ini sekaligus menunjukkan kemampuan Indonesia menjaga pasokan pupuk di tengah tantangan rantai pasok global yang masih dipengaruhi dinamika geopolitik dunia.
Kedatangan kapal Motor Vessel (MV) Medi Luna yang membawa pupuk dari Indonesia juga menandai implementasi kerja sama ekspor pupuk melalui skema Government-to-Government (G-to-G) antara kedua negara.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono, mengatakan pengiriman pupuk ke Australia menjadi bukti kontribusi Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan kawasan Indo-Pasifik.
Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu produsen pupuk yang mampu menjaga kontinuitas pasokan ketika rantai distribusi global menghadapi berbagai tantangan.
“Kerja sama ini menjadi simbol eratnya kemitraan ketahanan pangan Indonesia dan Australia. Ketika rantai pasok global menghadapi tantangan, Indonesia dengan kapasitas produksi urea yang besar dapat membantu memenuhi kebutuhan Australia yang mencapai 3,7 juta ton per tahun,” kata Siswo dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Baca Juga: Dasco Telepon Bos Pertamina, Ancaman PHK 55 Ribu Buruh Jadi Sorotan
Selain memperkuat hubungan bilateral, kerja sama tersebut juga diharapkan dapat memberikan kepastian pasokan bagi sektor pertanian Australia yang sangat bergantung pada ketersediaan pupuk.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menjelaskan bahwa keberhasilan ekspor ini mencerminkan daya saing industri pupuk nasional yang semakin kuat.
Menurutnya, perusahaan mampu menjaga keberlanjutan produksi dan distribusi sehingga dapat memenuhi kebutuhan petani dalam negeri sekaligus melayani pasar internasional.
“Hari ini Indonesia menunjukan bahwa kita adalah reliable supplier yang bisa menjadi sumber pasokan pupuk bagi negara mitra. Kita datang ketika mereka membutuhkan dan kita memberikan kepastian ketika dunia penuh ketidakpastian,” ujar Rahmad.
Baca Juga: QLola by BRI Makin Diminati Korporasi, Jumlah Pengguna Tembus 258 Ribu Klien
Saat ini, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton pupuk per tahun. Khusus untuk urea, produksi pada 2026 ditargetkan mencapai 7,8 juta ton.
Sementara kebutuhan pupuk dalam negeri diperkirakan berada di angka 6,3 juta ton, sehingga masih tersedia ruang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekspor tanpa mengganggu pasokan nasional.
“Arahan dari Bapak Presiden adalah, pertama penuhi dulu kebutuhan pupuk dalam negeri untuk para petani kita. Kita memiliki kapasitas yang memang lebih besar dari kebutuhan petani di Indonesia,” kata Rahmad.
Kemampuan Indonesia dalam memasok pupuk ke pasar internasional juga ditopang oleh kondisi stok dalam negeri yang relatif aman.
Hingga 22 Juni 2026, stok pupuk bersubsidi tercatat mencapai 1,23 juta ton. Sementara realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 4,61 juta ton atau meningkat sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pemerintah Australia menyambut positif kedatangan pupuk asal Indonesia tersebut.
Chief Digital & Data Officer (First Assistant Secretary) Kementerian Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia, Amanda Chalmers, menilai pengiriman ini menjadi simbol kuat hubungan strategis kedua negara.
“Kedatangan urea dari Indonesia hari ini menjadi cerminan eratnya kemitraan serta persahabatan antara Australia dan Indonesia. Pasokan pupuk ini memberikan kepastian bagi para petani, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan Australia dan kawasan yang lebih luas,” ujar Amanda.
Ekspor urea ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama yang sebelumnya dibangun antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.
Pengiriman perdana dilakukan menggunakan kapal MV Medi Luna yang berangkat dari Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang, Kalimantan Timur, pada pertengahan Mei 2026. Selanjutnya, pengiriman akan dilakukan secara bertahap hingga mencapai target total ekspor sebesar 250.000 ton pada akhir tahun 2026.