AI Masuk 10 Besar Ketakutan Warga AS, Politik dan Ekonomi Jadi Sorotan
UpdateYuk.id - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk dalam daftar 10 ketakutan terbesar warga Amerika Serikat (AS) pada 2026. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Survei Ketakutan Amerika yang dilakukan Chapman University, dua kekhawatiran terkait AI sekaligus masuk daftar tersebut, yakni potensi merusak proses politik dan perekonomian.
Berdasarkan survei tahunan yang dilaporkan Popular Science pada Rabu (20/10/2026), sebanyak 51,9 persen responden takut AI merusak proses politik. Kekhawatiran ini menempati peringkat ketiga, sementara 49,7 persen responden khawatir AI merusak perekonomian, yang berada di posisi ketujuh.
Survei Ketakutan Amerika ke-12 tersebut melibatkan lebih dari 1.200 responden dengan margin kesalahan plus minus 3,79 persen. Penelitian ini melacak kecemasan masyarakat AS, mulai dari persoalan sehari-hari hingga ancaman yang dianggap dapat berdampak luas terhadap kehidupan mereka.
Korupsi pemerintah masih menjadi ketakutan terbesar
Meski kekhawatiran tentang AI mencuat, pejabat pemerintah yang korup masih menjadi ketakutan terbesar warga AS. Sebanyak 61,1 persen responden menyebut persoalan tersebut sebagai salah satu ketakutan mereka.
Isu korupsi ini menempati posisi pertama selama 11 tahun berturut-turut, termasuk pada survei tahun sebelumnya.
Di posisi kedua, sebanyak 58 persen responden mengaku takut AS kembali terlibat dalam perang dunia. Sementara itu, kekhawatiran terhadap AI yang merusak proses politik berada tepat di bawahnya dengan selisih 6,1 poin persentase.
Ketakutan terhadap orang terkasih yang mengalami sakit parah menempati posisi keempat dengan 51,8 persen, hanya terpaut 0,1 poin persentase dari kekhawatiran terhadap AI dan proses politik.
Daftar 10 ketakutan terbesar warga AS pada 2026
Berikut daftar ketakutan terbesar warga AS berdasarkan infografis resmi Chapman University yang dikutip dalam laporan tersebut:
-
Pejabat pemerintah yang korup — 61,1 persen
-
AS terlibat perang dunia lagi — 58 persen
-
AI merusak proses politik — 51,9 persen
-
Orang yang dicintai mengalami sakit parah — 51,8 persen
-
Orang yang dicintai meninggal — 50,6 persen
-
Keruntuhan ekonomi atau finansial — 50,6 persen
-
AI merusak perekonomian — 49,7 persen
-
Pemerintah melacak data pribadi — 48,9 persen
-
Perang biologis — 48,2 persen
-
Serangan teroris — 47,3 persen
Masuknya dua isu AI dalam daftar tersebut menjadi sorotan karena survei 2026 merupakan tahun pertama peneliti Chapman University di California memasukkan pertanyaan khusus mengenai AI ke dalam kuesioner mereka.
Kekhawatiran terhadap AI diperkirakan berlanjut
Sosiolog Chapman University sekaligus pencipta Survei Ketakutan Amerika, Christopher Bader, mengatakan pemahaman mengenai kekhawatiran masyarakat terhadap AI akan semakin penting seiring teknologi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Seiring kecerdasan buatan semakin terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman tentang kekhawatiran ini akan menjadi semakin penting," kata Bader.
Ia memperkirakan isu tersebut akan terus menjadi bagian penting dari pembicaraan publik di AS.
"Kami memperkirakan kekhawatiran tentang AI akan tetap menjadi bagian penting dari percakapan nasional di tahun-tahun mendatang," lanjutnya.
Istilah AI kini mencakup beragam teknologi dan penggunaan, mulai dari pembuatan gambar palsu yang tampak realistis hingga chatbot pada mesin pencari. Perkembangan tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai keandalan informasi yang dihasilkan dan potensi penyebaran informasi palsu.
Di sisi lain, minimnya regulasi atau pengawasan yang dinilai memadai juga menjadi bagian dari perdebatan mengenai risiko AI. Namun, survei ini mengukur ketakutan yang dirasakan responden, bukan membuktikan bahwa seluruh risiko tersebut telah terjadi atau bahwa AI secara langsung menyebabkan dampak tertentu.
Ketakutan terhadap orang terkasih tetap bertahan
Di tengah perubahan teknologi dan situasi sosial, penyelenggara survei juga menyoroti ketakutan yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia.
Sosiolog Ashley Kranjac, Direktur Pusat Penelitian Earl Babbie di Chapman University, mengatakan kekhawatiran terhadap keselamatan orang-orang terdekat tetap menjadi bagian penting dari kecemasan masyarakat.
"Yang semakin sering saya lihat dari waktu ke waktu adalah bahwa rasa takut kita terhadap orang-orang yang kita cintai akan selalu ada, apa pun yang terjadi di dunia," kata Kranjac.
Hasil survei 2026 dengan demikian memperlihatkan dua kelompok kekhawatiran yang hadir bersamaan: persoalan politik dan ekonomi yang berkaitan dengan perkembangan teknologi, serta ketakutan personal terhadap keselamatan dan kehilangan orang terkasih.
