Harga Cabai dan Tomat Dorong Inflasi Jawa Barat 2,90 Persen pada Oktober 2026
UpdateYuk.id - Kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi Jawa Barat pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) mencapai 2,90 persen.
Sementara itu, inflasi bulanan atau month-to-month (mtm) tercatat sebesar 0,20 persen. Adapun inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 2,31 persen.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi paling besar terhadap inflasi pada periode tersebut.
"Meskipun mengalami sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya, capaian ini masih berada dalam rentang sasaran target yang terkendali. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar pada bulan ini, yakni sebesar 0,12 persen dengan inflasi kelompok 0,41 persen," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/11/2026).
Pasokan hortikultura berkurang akibat kemarau dan serangan hama
Menurut Ari, kenaikan harga cabai dan tomat berkaitan dengan terbatasnya pasokan. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau panjang serta serangan hama patek pada tanaman hortikultura.
Di tengah kenaikan sejumlah komoditas tersebut, beberapa barang justru mengalami penurunan harga. Daging ayam ras, telur ayam ras, dan emas perhiasan tercatat ikut menahan tekanan inflasi.
Harga beras yang sebelumnya menjadi salah satu penyumbang inflasi dalam beberapa bulan terakhir juga mulai turun pada Oktober 2026.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kota Bogor mengalami inflasi bulanan tertinggi di Jawa Barat, yakni 0,35 persen. Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kota Bandung sebesar 0,08 persen.
Nilai Tukar Petani Jawa Barat naik 1,14 persen
Selain perkembangan inflasi, BPS Jawa Barat mencatat perbaikan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2026. Indikator tersebut meningkat 1,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 121,91.
Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) juga mengalami kenaikan dengan persentase yang sama, yakni 1,14 persen, sehingga mencapai 126,56.
Ari menjelaskan, peningkatan kedua indikator itu didorong oleh kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,34 persen. Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), yang bertambah 0,20 persen.
"Penguatan ini didorong oleh kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,34 persen yang melampaui kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,20 persen," kata Ari.
Subsektor hortikultura mencatat peningkatan NTP paling tinggi, yaitu 5,22 persen. Namun, biaya produksi dan penambahan barang modal juga mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen.
Kenaikan biaya tersebut terutama dipengaruhi oleh harga pakan ikan, dedak ternak, pupuk urea, dan bibit sapi.
Produksi padi 2026 diperkirakan turun 8,16 persen
BPS Jawa Barat memperkirakan luas panen padi sepanjang 2026 mencapai 1,63 juta hektare. Dari luas tersebut, produksi gabah kering giling (GKG) diproyeksikan sebesar 9,39 juta ton atau setara dengan 5,42 juta ton beras.
Meski demikian, produksi padi diperkirakan lebih rendah 8,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dikaitkan dengan kondisi cuaca ekstrem yang memengaruhi sejumlah sentra produksi.
"Angka ini mengalami koreksi atau penurunan sekitar 8,16 persen dibanding tahun 2025, yang dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem seperti banjir di sentra Pantura pada awal tahun serta kekeringan akibat El Nino di pertengahan tahun," tutur Ari.
Sementara itu, produksi jagung pipilan pada 2026 diperkirakan mencapai 777.300 ton dengan luas panen sekitar 105.250 hektare. Jumlah produksi tersebut diproyeksikan turun 2,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
TPID diminta mengantisipasi kenaikan permintaan menjelang akhir tahun
Menghadapi periode libur akhir tahun, Ari mengingatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar mengantisipasi kemungkinan meningkatnya permintaan bahan pokok.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada komoditas hortikultura yang rentan mengalami kenaikan harga ketika terjadi pergantian musim. Ketersediaan pasokan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga stabilitas harga.
"Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) harus bersiap mengantisipasi potensi lonjakan permintaan bahan pokok menjelang libur akhir tahun, khususnya guna meredam tekanan harga hortikultura di tengah transisi musim," katanya.
