Berawal dari Hobi Tenis, Empat Perempuan di Malang Bangun Gerakan Donatur Kolektif
UpdateYuk.id - Di tengah riuh demonstrasi di depan Balai Kota Malang pada 28 Oktober lalu, tiga perempuan terlihat sibuk memborong dagangan pedagang kecil. Nasi, bakso, buah, minuman, hingga aneka jajanan mereka beli untuk dibagikan secara gratis kepada massa aksi.
Aksi tersebut menjadi gambaran bahwa demonstrasi tidak selalu identik dengan ketegangan. Di tengah suara tuntutan, masih ada ruang bagi solidaritas, kepedulian, sekaligus dukungan terhadap usaha kecil.
Dana untuk memenuhi kebutuhan massa aksi itu berasal dari donasi yang dikumpulkan melalui gerakan bernama Donatur Kolektif. Inisiatif sosial tersebut digagas empat perempuan, yakni Britania, Azel, Gita, dan Menda. Menariknya, gerakan ini bermula dari pertemanan mereka yang sama-sama gemar bermain tenis.
Berawal dari Pertemanan dan Kepedulian terhadap Korban Bencana
Keempat perempuan itu awalnya saling mengenal karena kerap bermain tenis bersama. Dari aktivitas tersebut, mereka mulai mengetahui kegiatan dan kesibukan masing-masing.
Pada Desember 2025, Menda bercerita kepada teman-temannya bahwa ia berencana turun langsung membantu korban bencana erupsi Gunung Semeru. Rencana tersebut kemudian mendapat dukungan dari Britania, Azel, dan Gita.
Mereka pun sepakat membuat akun media sosial bersama dengan nama Donatur Kolektif. Selain membuka penggalangan dana, mereka juga berinisiatif terlibat langsung dalam kegiatan bantuan di lokasi bencana.
Sejak membantu korban erupsi Semeru, kegiatan sosial mereka terus berlanjut. Donatur Kolektif turut bergerak ketika bencana banjir melanda Aceh dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Azel menyebut, mereka tidak hanya mengumpulkan donasi, tetapi juga mendatangi lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan. ”Total sudah 4 kali kami hadir dalam aksi,” beber Azel.
Mengutamakan Transparansi Donasi
Dalam menjalankan gerakan tersebut, Azel dan rekan-rekannya berupaya menjaga keterbukaan pengelolaan dana. Setiap donasi yang masuk dicatat secara realtime. Begitu pula pengeluaran yang dilakukan untuk kegiatan sosial.
Jumlah dana yang terkumpul dan penggunaannya kemudian diumumkan melalui media sosial. Dengan cara itu, para donatur dapat mengetahui perkembangan penggalangan dana sekaligus penyaluran bantuan.
Menurut Azel, antusiasme masyarakat untuk berbagi cukup tinggi. Setiap kali membuka donasi, dana yang terkumpul bisa mencapai jutaan rupiah.
”Yang donasi kebanyakan teman-teman sendiri. Namun, lama kelamaan kami semakin dikenal karena salah satu founder yakni Britania Sari dari Klaten sudah lebih dulu dikenal,” terang dia.
Azel sendiri merupakan seorang content creator. Ia turut memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi penggalangan dana. Unggahan ajakan berdonasi juga dibuat oleh Britania Sari.
Tetap Turun ke Lapangan dengan Persiapan
Keterlibatan Donatur Kolektif tidak terbatas pada kegiatan bantuan bencana. Mereka juga hadir dalam aksi demonstrasi, termasuk kegiatan di depan Balai Kota Malang.
Dalam situasi yang berpotensi memanas, Azel dan rekan-rekannya telah menyiapkan langkah antisipasi. Salah satunya dengan mengenakan pakaian berwarna putih agar keberadaan mereka mudah terlihat jika terjadi kerusuhan.
Persiapan tersebut telah disepakati sebelum aksi sebagai bagian dari mitigasi risiko.
Bagi mereka, kepedulian dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Mulai dari membantu korban bencana, memenuhi kebutuhan masyarakat, hingga mendukung pedagang kecil dengan membeli dagangan mereka untuk dibagikan kepada peserta aksi.
Meski demikian, Azel dan rekan-rekannya ingin gerakan Donatur Kolektif lebih berfokus pada persoalan kebencanaan dan kebutuhan yang benar-benar mendesak.
”Gerakan seperti ini tetap berjalan, tapi untuk hal-hal yang benar-benar krusial. Karena otoritas yang lebih besar tetap pemerintah,” pungkasnya.
