Selasa, 03 Nov 2026 NewsDaerahEkonomiSosokTren
Breaking
Beranda › News
News

BGN Tutup Permanen 2.000 Dapur MBG yang Tak Penuhi Syarat Higiene Sanitasi

✍️ Ayu Lestari 🕒 29 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam agenda 100 Hari Kerja, di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam agenda 100 Hari Kerja, di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026). Foto: KOMPAS.com/FIRDA JANATI

UpdateYuk.id - Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim telah menutup secara permanen lebih dari 2.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi persyaratan kelayakan higiene dan sanitasi.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, tindakan tersebut dilakukan terhadap dapur yang tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) maupun yang tidak memenuhi standar operasional dalam pengolahan makanan. Menurutnya, kepemilikan sertifikat saja belum cukup untuk menjamin kelayakan dapur.

"Kami telah menutup dapur kira-kira lebih dari 2.000 dapur yang tidak memiliki syarat kelayakan higienis dan sanitasi. Enggak punya, tutup!" kata Sudaryono dalam agenda 100 Hari Kerja di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, persoalan yang ditemukan tidak terbatas pada kondisi fisik dapur. Penanganan bahan pangan dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) juga menjadi perhatian dalam pengawasan pelaksanaan program MBG.

"Intinya punya SLHS saja, punya sertifikasi laik higienis dan sanitasi, punya sertifikatnya saja itu belum tentu dapurnya layak, apalagi tidak punya. Jadi yang tidak punya kami tutup," kata Sudaryono.

Dapur MBG di Karo, Semarang, dan Blora Ditutup

Sudaryono mencontohkan sejumlah kasus yang berujung pada penutupan permanen dapur MBG. Salah satunya terjadi di Kabupaten Karo, ketika ikan yang tidak tertampung di dalam freezer diduga dibiarkan pada suhu ruang selama lebih dari 12 jam sebelum diolah.

Selain kasus tersebut, BGN juga menutup permanen dapur MBG di Semarang dan Blora.

"Yang di Karo sudah saya tutup permanen, kemudian yang di Semarang juga saya tutup permanen, kemudian yang di Blora saya tutup permanen," ujar politikus Partai Gerindra itu.

Temuan lainnya berkaitan dengan proses pengadaan dan pengolahan bahan makanan. Sudaryono mengungkap adanya pembelian telur puyuh yang sudah matang dan dikupas di Cirebon, serta penggunaan bumbu kacang untuk menu sate di Bogor.

Menurutnya, praktik tersebut dapat menyulitkan pengawasan terhadap proses pengolahan, kebersihan, serta penanganan bahan pangan sebelum makanan disajikan kepada penerima manfaat.

Kelalaian Disengaja Terancam Penutupan Permanen

BGN menegaskan bahwa pemenuhan standar kebersihan dan sanitasi menjadi bagian penting dalam operasional dapur MBG. Pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap dokumen persyaratan, tetapi juga terhadap praktik penanganan dan pengolahan makanan.

Sudaryono menyatakan, dapur yang melakukan kelalaian secara sengaja akan menghadapi sanksi berupa penutupan permanen.

"Maka di dalam 100 hari, 3 bulan lebih kita menjalankan BGN ini, semua kelalaian yang disebabkan oleh kelalaian yang disengaja, maka hukumannya ancamannya adalah ditutup secara permanen," tutur Sudaryono.

Langkah tersebut, menurut Sudaryono, menjadi bagian dari tindakan BGN dalam menangani pelanggaran kelayakan operasional dapur MBG, terutama yang berkaitan dengan standar higiene dan sanitasi.

AL
Ayu LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update