Selasa, 03 Nov 2026 NewsDaerahEkonomiSosokTren
Breaking
Beranda › Tren
Tren

Binance Diretas, Aset Kripto US$6,3 Miliar Dicuri, 90 Persen Kerugian Diganti

✍️ Ayu Lestari 🕒 02 Nov 2026 👁️ 3x dibaca
Ilustrasi Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.
Ilustrasi Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia. Foto: Anton Zubchevskyi / iStock Editorial via Getty Images

UpdateYuk.id - Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, dilaporkan mengalami peretasan yang menyebabkan aset digital senilai 6,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 114,1 triliun dicuri pada Kamis (29/10/2026).

Insiden tersebut diduga menjadi salah satu pencurian terbesar dalam sejarah industri kripto. Nilai kerugiannya bahkan melampaui peretasan bursa Bybit pada 2025 yang mengakibatkan kehilangan aset sekitar 1,5 miliar dollar AS atau Rp 27 triliun.

Menanggapi kejadian itu, Binance menyatakan telah mengganti sekitar 90 persen aset yang dicuri menggunakan dana perusahaan. Bursa tersebut juga berkomitmen menanggung seluruh kerugian agar nasabah tidak terdampak secara finansial.

"Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan para pengguna kami," kata Binance dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (31/10/2026), dilansir dari BBC, Minggu (1/11/2026).

Binance Siapkan Dana Internal untuk Ganti Kerugian

Binance menyebut sekitar 90 persen dari total aset senilai 6,3 miliar dollar AS yang hilang telah diganti. Sementara itu, pemenuhan sisa 10 persen diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama karena beberapa aset kripto lebih sulit diperoleh dalam jumlah besar.

Untuk menutup kerugian tersebut, perusahaan telah menyiapkan dana internal lebih dari 6,34 miliar dollar AS. Binance juga memanfaatkan berbagai sumber pendanaan dan kas perusahaan untuk membeli kembali token yang dicuri.

Perusahaan memastikan seluruh kepemilikan Bitcoin, Ethereum, dan Tether telah ditanggung. Jaminan serupa diberikan terhadap tujuh aset kripto lain yang memiliki volume perdagangan tinggi.

Sebelumnya, Binance juga berhasil membekukan aset hasil pencurian senilai sekitar 3 miliar dollar AS atau setara Rp 54,3 triliun. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum, perusahaan intelijen, dan sejumlah mitra.

Di sisi lain, layanan penarikan dana yang sempat dihentikan setelah insiden peretasan mulai kembali beroperasi di sejumlah jaringan Binance. Pemulihan layanan dilakukan secara bertahap sejak Minggu (1/11/2026).

FBI Tuduh Korea Utara sebagai Pelaku Peretasan

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) pada Sabtu (31/10/2026) menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas serangan terhadap Binance.

FBI mengungkapkan bahwa para peretas terpantau mengonversi aset hasil pencurian menjadi Ethereum. Aset tersebut diperkirakan selanjutnya akan dipindahkan melalui layanan keuangan terdesentralisasi atau decentralized finance (DeFi) serta layanan pertukaran instan.

Dua perusahaan analisis sebelumnya juga menyampaikan bahwa informasi intelijen yang mereka miliki mengarah pada kelompok peretas yang didukung negara Korea Utara, yakni Lazarus Group atau dikenal pula sebagai TraderTraitor.

FBI secara khusus menyebut kelompok tersebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Binance.

Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintah AS belum dapat memastikan siapa pelaku di balik insiden tersebut.

"Kami sedang mempelajarinya. Kami belum tahu apakah Korea Utara yang melakukannya. Namun, jika memang demikian, kami akan membicarakan hal ini dengan Korea Utara," ujar Trump.

Sementara itu, pemerintah Korea Utara membantah keterlibatan negaranya dalam serangan peretasan tersebut.

Dalam lima tahun terakhir, industri kripto berulang kali menjadi sasaran serangan siber dengan nilai kerugian yang besar. Dalam sejumlah kasus, penyelidik mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas asal Korea Utara, termasuk Lazarus Group.

Perusahaan analisis kripto Chainalysis sebelumnya juga menyatakan memiliki tingkat keyakinan tinggi bahwa pelaku dari Korea Utara terkait dengan peretasan Binance.

Sejumlah pakar menilai kejahatan siber menjadi salah satu cara rezim Korea Utara memperoleh pemasukan di tengah keterbatasan industri dalam negeri dan ketatnya sanksi internasional.

Laptop Insinyur Diduga Jadi Salah Satu Celah Keamanan

Co-CEO Binance, Richard Teng, mengatakan serangan tersebut tidak dilakukan oleh satu orang. Berdasarkan penyelidikan awal, insiden itu diduga melibatkan laptop milik seorang insinyur yang telah diretas sehingga memungkinkan terjadinya penarikan aset tanpa izin.

Namun, investigasi lanjutan menemukan sejumlah titik pelanggaran keamanan lainnya.

"Aksi ini tidak dilakukan oleh satu orang. Investigasi awal kami menunjukkan bahwa insiden keamanan tersebut mungkin melibatkan laptop yang telah diretas. Namun, penyelidikan lanjutan kami menemukan sejumlah titik pelanggaran keamanan lainnya," kata Teng.

Teng juga mengungkapkan bahwa pelaku menggunakan teknik canggih untuk menghapus jejak aktivitas selama serangan berlangsung.

Salah satu metode yang digunakan adalah mekanisme penghancuran otomatis yang dapat menghapus perangkat sekaligus jejak aktivitas peretasan. Teknik tersebut membuat Binance menghadapi kesulitan lebih besar dalam melacak dan mengungkap rangkaian serangan.

Sementara itu, Dinas Rahasia Amerika Serikat atau US Secret Service menyatakan sedang bekerja sama dengan mitra sektor swasta untuk mengidentifikasi, membekukan, melacak, dan memulihkan aset yang dicuri.

Binance juga berkoordinasi dengan FBI dalam proses penyelidikan kasus tersebut.

AL
Ayu LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update