Dari Threads ke Jalanan, Begini Cara Perempuan Membangun Gerakan Solidaritas
UpdateYuk.id - Media sosial menjadi ruang bagi perempuan untuk membangun solidaritas dan saling menguatkan sebelum turun ke jalan menyampaikan aspirasi. Melalui unggahan di Threads, percakapan dalam grup, hingga jaringan pertemanan, mereka mencari teman berangkat dan pulang demonstrasi sekaligus membangun lingkaran yang dapat saling menjaga di tengah risiko aksi.
Pola tersebut terlihat dalam sejumlah gelombang demonstrasi selama pemerintahan Prabowo-Gibran. Pada 13 Oktober 2026, misalnya, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Jawa Barat menggelar aksi di Bandung. Demonstrasi itu sempat diwarnai ketegangan ketika massa dan polisi saling dorong. Sebelumnya, rangkaian aksi juga berlangsung pada pertengahan tahun.
Di tengah dinamika tersebut, sebagian perempuan memilih membangun jaringan secara informal. Mereka tidak selalu bergabung dengan organisasi besar, tetapi berangkat dari keresahan yang sama dan kebutuhan untuk merasa lebih aman ketika menyampaikan pendapat di ruang publik.
Ajakan personal menjadi pintu masuk ke aksi
Bagi Nada Arini, ibu rumah tangga yang mengikuti isu sosial dan lingkungan, keberanian untuk turun ke jalan tumbuh ketika ia mengetahui ada teman yang bisa diajak bersama.
Pengalaman pertamanya mengikuti demonstrasi terjadi saat gelombang Kawal Putusan Mahkamah Konstitusi pada Agustus 2024, yang dikenal dengan simbol Garuda Biru dan tagar #PeringatanDarurat. Ketika seorang teman mengajaknya membantu logistik aksi, Nada langsung menyambut kesempatan itu.
"Aku langsung nyamber karena kan kita berani, karena ada temennya kan," kata Nada.
Ia mengaku tidak akan memiliki keberanian yang sama jika harus berangkat sendirian. Pengalaman tersebut juga mengubah pandangannya tentang demonstrasi. Menurut Nada, suasana aksi yang ia alami ternyata tidak seseram yang dibayangkan.
Sejak itu, keterlibatannya berlanjut ke sejumlah aksi, termasuk demonstrasi menentang RUU TNI, Indonesia Gelap, hingga rangkaian aksi pada Agustus 2026.
Pengalaman Nada menunjukkan bahwa ajakan personal dapat menjadi langkah awal bagi perempuan untuk terlibat dalam gerakan sosial. Keberadaan teman bukan hanya membuat mereka lebih berani, tetapi juga memberikan dukungan ketika menghadapi situasi yang tidak menentu.
"Perempuan rasa amannya kan sempit banget," kata Nada.
Ketertarikan Nada pada isu sosial dan politik sendiri berawal dari persoalan lingkungan. Ia kemudian menyadari bahwa berbagai persoalan publik saling berhubungan, termasuk dengan kebutuhan dasar masyarakat.
"Ternyata kita tuh saling terkait," ujarnya kepada DW.
Kini, Nada kerap mengajak perempuan lain dari lingkaran pertemanannya. Sebelum membuka ajakan lebih luas, ia biasanya memastikan terlebih dahulu siapa saja teman dekatnya yang dapat berangkat bersama.
Dari unggahan Threads menjadi ruang solidaritas
Cara serupa dilakukan Alyana. Ia memulai ajakannya melalui sebuah utas di Threads untuk mempertemukan perempuan yang ingin mengikuti demonstrasi, tetapi merasa kurang nyaman jika harus datang sendirian.
Dari unggahan tersebut, terbentuk kelompok @nadiperempuan.id. Anggotanya berasal dari beragam latar belakang dan kelompok usia. Sebagian bahkan baru saling mengenal setelah terhubung melalui media sosial, tetapi memiliki keresahan yang serupa mengenai hak perempuan dan persoalan sosial.
Bagi Alyana, kelompok tersebut bukan sekadar tempat mencari teman demonstrasi. Ruang itu juga menjadi sarana untuk bertukar pandangan, saling mengingatkan tentang tujuan aksi, dan memastikan setiap anggota mendapat dukungan.
Ia menilai aspek keamanan perlu menjadi perhatian, terutama karena perempuan dapat menghadapi risiko pelecehan seksual dan situasi rentan lainnya ketika berada di tengah kerumunan.
"Menurut aku, penting banget buat kita saling menjaga. Karena ketika kita turun ke jalan, kita bukan cuma menyuarakan keresahan, tapi juga harus memastikan teman-teman kita aman. Apalagi buat perempuan, ada risiko-risiko yang kadang harus kita pikirkan lebih jauh," jelas Alya.
Solidaritas yang terbentuk melalui media sosial itu memperlihatkan bahwa partisipasi dalam aksi tidak selalu bermula dari organisasi formal. Hubungan personal dan kebutuhan untuk saling melindungi dapat menjadi penghubung bagi orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Gerakan rimpang dan jejaring tanpa pemimpin formal
Guru Besar Antropologi Hukum Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, menyebut pola gerakan semacam ini sebagai gerakan rimpang. Gerakan tersebut tumbuh melalui jejaring yang saling terhubung, tanpa harus bergantung pada satu pemimpin atau struktur organisasi yang kaku.
Sulistyowati menggambarkan gerakan itu sebagai sesuatu yang dapat muncul secara spontan, tanpa organisasi, pemimpin, maupun prosedur operasional baku. Ia juga mengaku bersedia datang ke aksi ketika mendapat ajakan, tanpa harus terlebih dahulu mengetahui siapa yang mengundangnya.
"Karena karakter dari gerakan perempuan tuh memang selalu berkelindahan dengan gerakan masyarakat sipil pada umumnya," ujarnya kepada DW.
Menurut pendekatan ini, gerakan perempuan tidak dapat dipandang sebagai kelompok yang seragam. Para peserta bisa memiliki latar belakang, kepentingan, dan cara berpartisipasi yang berbeda, tetapi terhubung oleh persoalan yang mereka anggap penting.
Jaringan informal juga memungkinkan perempuan saling mengorganisasi diri sesuai kebutuhan. Dalam praktiknya, solidaritas tidak berhenti pada ajakan turun ke jalan, tetapi mencakup perencanaan perjalanan, komunikasi selama aksi, dan perhatian terhadap keselamatan anggota kelompok.
Aturan bersama untuk mengurangi risiko
Bagi Nada dan lingkarannya, rasa kebersamaan perlu disertai langkah konkret untuk menjaga keselamatan. Mereka menyampaikan sejumlah aturan kepada perempuan yang baru pertama kali mengikuti aksi bersama kelompok tersebut.
Pertama, rombongan diupayakan pulang sebelum hari mulai gelap. Nada menilai situasi dapat menjadi lebih rawan ketika malam semakin larut. Sebagai ibu rumah tangga, ia juga mempertimbangkan kondisi fisik anggota kelompok yang mungkin tidak terbiasa menghadapi situasi darurat.
Kedua, peserta diminta datang dan pulang bersama. Jumlah orang yang berangkat dan kembali harus dipastikan, sehingga tidak ada anggota yang pulang sendirian tanpa sepengetahuan kelompok.
Ketiga, mereka diingatkan untuk berhati-hati membagikan informasi pribadi, terutama kepada orang yang baru dikenal di lokasi demonstrasi.
"Kita di lokasi itu boleh ramah, tapi enggak boleh overshare, karena kita enggak tahu kan," katanya.
Karena itu, anggota kelompok diminta tidak sembarangan membagikan nama asli, alamat rumah, maupun rencana perjalanan pulang. Menurut Nada, membangun solidaritas tidak berarti setiap orang harus membuka seluruh informasi pribadinya.
Keempat, peserta perlu mengetahui jalur evakuasi dan memprioritaskan keselamatan diri dibandingkan barang bawaan. Kelompok tersebut juga menggunakan penanda tertentu, seperti kaus atau tanda di pergelangan tangan, untuk mengenali sesama anggota.
Langkah-langkah itu menjadi bagian dari upaya membangun rasa saling percaya sekaligus mengurangi risiko ketika berada di tengah kerumunan.
Identitas sebagai ibu tidak menghapus kerentanan
Nada merasakan bahwa identitasnya sebagai ibu rumah tangga terkadang memengaruhi cara aparat memandang kelompoknya. Ia pernah mengalami situasi ketika kelompoknya menaruh makanan di depan pagar hotel. Saat aparat menanyakan makanan tersebut ditujukan kepada siapa, Nada menjawab bahwa makanan itu berasal dari masyarakat sipil. Setelah mendapat penjelasan tersebut, petugas membiarkan mereka.
Pengalaman itu membuat Nada menyadari bahwa citra ibu-ibu sebagai kelompok yang dianggap tidak mengancam dapat memberikan ruang gerak tertentu dalam situasi demonstrasi.
Sulistyowati mengaitkan dinamika tersebut dengan stereotipe gender yang melekat pada perempuan.
"Perempuan itu selalu dianggap sebagai kelompok yang tidak berbahaya," ujarnya.
Namun, anggapan tersebut tidak serta-merta menjamin keselamatan perempuan, baik selama maupun setelah aksi. Kerentanan juga dapat muncul dalam bentuk ancaman di ruang digital, termasuk penyebaran data pribadi atau doxing.
Komnas Perempuan mencatat sembilan perempuan ditangkap pada 25–31 Agustus 2025. Sebagian kasus berkaitan dengan unggahan di media sosial, meskipun menurut Komnas Perempuan, tiga dari sembilan perempuan tersebut bukan peserta aksi. Komnas Perempuan juga menyoroti ancaman kekerasan seksual dan doxing.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa risiko yang dihadapi perempuan tidak terbatas pada situasi fisik di lokasi demonstrasi. Aktivitas digital dan penyebaran informasi pribadi juga menjadi bagian dari persoalan keamanan yang perlu diperhatikan.
Kebijakan nasional berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari
Bagi Nada, keterlibatan dalam aksi juga berhubungan dengan pengalaman sehari-hari sebagai ibu. Ia melihat kebijakan pemerintah, penggunaan anggaran negara, harga pangan, dan keberlangsungan usaha kecil sebagai persoalan yang saling berkaitan.
Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah alokasi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia mempertanyakan ketepatan penggunaan uang pajak untuk program-program tersebut ketika harga pangan masih menjadi beban rumah tangga dan usaha kecil yang dijalankan teman-temannya menghadapi kesulitan.
Baginya, isu politik dan kebijakan publik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan keluarga. Keputusan mengenai anggaran negara dapat berkaitan dengan kebutuhan pangan, keamanan makanan anak, serta kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, Alyana menyoroti persoalan yang dirasakan generasi muda, terutama ketidakpastian ekonomi dan terbatasnya kesempatan kerja.
"Sekarang buat anak muda, rasanya banyak hal yang bikin kita khawatir. Mau cari kerja susah, kondisi ekonomi juga enggak pasti," ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat anak muda menghadapi tantangan dalam membangun kemandirian ekonomi dan merencanakan masa depan.
"Padahal kita punya kebutuhan hidup dan ingin punya masa depan yang lebih terjamin. Jadi, kebijakan pemerintah itu sebenarnya dekat banget dengan kehidupan kita sehari-hari," ujarnya.
Perbedaan pengalaman antara Nada dan Alyana memperlihatkan bahwa keresahan yang mendorong perempuan terlibat dalam gerakan sosial dapat berangkat dari berbagai tahap kehidupan. Bagi sebagian orang, persoalannya berkaitan dengan keluarga dan kebutuhan rumah tangga; bagi yang lain, berkaitan dengan pekerjaan, penghasilan, dan masa depan.
Menyampaikan aspirasi tidak harus selalu turun ke jalan
Meski demonstrasi menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pendapat, Alyana menegaskan bahwa keterlibatan dapat dilakukan melalui berbagai bentuk. Perempuan bisa menyuarakan pandangan lewat media sosial, berdiskusi dengan keluarga atau komunitas, serta mendukung aksi melalui bantuan logistik maupun donasi.
"Ada banyak cara lain untuk menyampaikan aspirasi."
Bagi perempuan yang ingin mengikuti demonstrasi tetapi belum memiliki teman, Nada menyarankan untuk mencari informasi, menghubungi orang yang dipercaya, dan merencanakan perjalanan bersama. Namun, ia juga mengingatkan agar tidak memaksakan diri jika belum merasa aman atau siap.
Bagi Nada sendiri, turun ke jalan menjadi salah satu ruang untuk menyalurkan keresahan di tengah berbagai peran yang dijalani sehari-hari.
"Aksi itu kayak jadi katarsis," katanya.
"Diam itu bukan pilihan."
Di tengah dinamika politik dan sosial, pengalaman Nada dan Alyana menunjukkan bahwa solidaritas dapat tumbuh dari tindakan sederhana: mengajak seseorang berangkat bersama, memastikan semua anggota pulang dengan aman, dan menyediakan ruang bagi perempuan untuk menyampaikan keresahan mereka. Bagi mereka, keberanian tidak harus dibangun sendirian.
