Haley Sacks Pilih Sewa Rumah Meski Kaya Raya, Bukan Investasi Utama
UpdateYuk.id - Memiliki rumah sendiri kerap dianggap sebagai tanda kedewasaan dan keberhasilan finansial. Namun, Haley Sacks, kreator konten keuangan yang dikenal sebagai Mrs. Dow Jones, justru bangga memilih menyewa tempat tinggal meski telah menjadi miliuner.
Sacks menilai kepemilikan rumah seharusnya menjadi pilihan gaya hidup, bukan tolok ukur kesuksesan seseorang dalam mengelola keuangan. Menurutnya, membeli properti perlu dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan pribadi, kondisi finansial, dan peluang investasi lain yang tersedia.
"Saya seorang miliuner, dan saya bangga dengan status saya sebagai penyewa," kata Sacks kepada Ellie Austin dari Fortune dalam program Fortune Daily.
Kreator konten generasi milenial yang memiliki lebih dari 2 juta pengikut itu dikenal melalui edukasi keuangan pribadi. Ia mengajak generasi muda mengevaluasi kembali anggapan lama bahwa seseorang baru dianggap dewasa ketika berhasil memiliki rumah sendiri.
"Kita semua masih memiliki pemahaman bahwa saat kita memiliki rumah, barulah kita bisa disebut sebagai orang dewasa. Namun, kita perlu memikirkan kembali hal itu, karena banyak dari kita yang mungkin tidak akan pernah memiliki rumah sendiri," katanya.
Membeli rumah bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan
Meski memilih menyewa, Sacks tidak menutup kemungkinan membeli rumah pada masa depan. Ia membayangkan memiliki hunian sendiri di luar Kota New York, terutama ketika sudah berkeluarga.
Ia ingin memiliki keleluasaan untuk menentukan berbagai detail rumah, mulai dari warna cat hingga gagang pintu. Namun, ia menyadari bahwa membeli dan menyesuaikan rumah dengan keinginan pribadi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Sebelum membeli properti, Sacks ingin mencapai target tertentu dalam investasinya. Ia tidak memandang rumah sebagai instrumen investasi utama dan lebih mengutamakan manfaatnya bagi kehidupan pribadi.
"Saya hanya akan membelinya sebagai pilihan gaya hidup, bukan sebagai pilihan investasi," ujarnya.
Penulis buku Future Rich Person itu juga menilai dana yang disiapkan untuk uang muka rumah dapat menjadi modal investasi di pasar saham. Baginya, membangun kekayaan tidak harus selalu dimulai dengan membeli properti.
Meski demikian, pilihan antara menyewa dan membeli rumah tetap perlu mempertimbangkan harga hunian, biaya sewa, kondisi pasar, serta tujuan keuangan masing-masing orang.
Harga rumah semakin sulit dijangkau generasi muda
Pandangan Sacks muncul ketika semakin banyak anak muda di Amerika Serikat menghadapi tantangan untuk membeli rumah dan mencapai tonggak kehidupan lain, seperti menikah dan memiliki anak.
Sebagian orang kemudian menyesuaikan strategi keuangannya. Ada yang membeli rumah dengan kebutuhan renovasi besar agar lebih sesuai dengan anggaran, mencari penghasilan dari berbagai sumber, hingga menunda pernikahan atau memiliki anak untuk menjaga kestabilan finansial.
Susan Wachter, profesor real estat dan keuangan di Wharton School, University of Pennsylvania, menilai perubahan tersebut mencerminkan pergeseran cara generasi muda menjalani kehidupan, bukan sekadar penundaan pencapaian.
"Mereka tidak sekadar menunda pencapaian tahapan hidup. Mereka juga menempuh jalan yang berbeda," ujar Wachter kepada Fortune.
Data Pew Research Center turut menunjukkan adanya kesenjangan antara kenaikan harga rumah dan pertumbuhan pendapatan generasi muda di AS.
Pada periode 2019 hingga 2024, nilai median rumah di AS meningkat 30 persen setelah disesuaikan dengan inflasi. Sementara itu, pendapatan median rumah tangga yang dikepalai seseorang berusia di bawah 40 tahun hanya naik 9 persen secara riil.
Perbedaan pertumbuhan tersebut membuat harga rumah semakin sulit dikejar oleh sebagian generasi muda, terutama mereka yang pendapatannya tidak meningkat secepat harga properti.
Biaya kepemilikan rumah tidak berhenti pada uang muka
Sacks mengingatkan bahwa keputusan membeli rumah tidak cukup hanya memperhitungkan harga properti dan uang muka. Pemilik rumah juga harus menyiapkan anggaran untuk renovasi, perawatan, dan berbagai kebutuhan lain setelah transaksi selesai.
Biaya tersebut dapat bertambah ketika pemilik ingin menyesuaikan hunian dengan selera pribadi, seperti mengganti warna cat, memperbarui interior, atau mengganti perlengkapan rumah.
Karena itu, menurut Sacks, calon pembeli perlu menilai keseluruhan biaya kepemilikan sebelum memutuskan mengalokasikan sebagian besar tabungannya untuk properti.
Ia juga melihat investasi saham sebagai salah satu alternatif untuk mengembangkan kekayaan. Namun, pilihan tersebut bukan berarti saham selalu lebih menguntungkan daripada rumah, sebab keduanya memiliki risiko, biaya, dan karakteristik yang berbeda.
Sacks mengakui peran dukungan keluarga
Di balik keberhasilannya membangun bisnis hingga menjadi miliuner, Sacks mengakui bahwa perjalanan kariernya turut didukung oleh bantuan keluarga.
Setelah kehilangan pekerjaan pada 2018, ia bekerja sebagai penulis lepas dengan memanfaatkan koneksi yang dimilikinya di industri media. Pada masa itu, orang tuanya ikut membantu membayar biaya sewa tempat tinggal.
"Saya tidak ingin mengabaikan hal-hal seperti itu, karena itu sangatlah penting," katanya.
Pengakuan tersebut menyoroti pentingnya mempertimbangkan faktor dukungan keluarga ketika membicarakan keberhasilan finansial seseorang. Kesempatan kerja, jaringan profesional, dan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dapat memengaruhi kemampuan seseorang membangun karier serta mengumpulkan kekayaan.
Bagi Sacks, menyewa rumah bukan berarti gagal mencapai kesuksesan. Ia justru ingin menunjukkan bahwa keputusan keuangan tidak harus mengikuti satu pola yang sama untuk semua orang.
Pada akhirnya, menyewa atau membeli rumah merupakan keputusan yang perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial, kebutuhan tempat tinggal, rencana jangka panjang, dan prioritas hidup masing-masing individu.
