Selasa, 03 Nov 2026 NewsDaerahEkonomiSosokTren
Breaking
Beranda › Tren
Tren

IHSG Bergejolak, Investor Sebaiknya Cut Loss atau Serok Saham?

✍️ Ayu Lestari 🕒 20 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Ilustrasi saham, pasar saham.
Ilustrasi saham, pasar saham. Foto: MAGNIFIC/FREEPIK

UpdateYuk.id - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian investor pasar modal. Di tengah volatilitas yang tinggi, investor disarankan mengevaluasi batas toleransi kerugian, mempertimbangkan fundamental perusahaan, dan berhati-hati sebelum mengambil keputusan jual maupun beli saham.

Perencana keuangan Andi Nugroho mengatakan, langkah yang diambil investor perlu disesuaikan dengan kondisi portofolio dan kemampuan masing-masing dalam menghadapi risiko investasi.

Pada Jumat (16/10/2026), IHSG tercatat anjlok 469,85 poin atau 8,01 persen ke level 5.393,92 pada sesi pra-perdagangan pukul 08.58 WIB. Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026). Pada pukul 09.38 WIB, IHSG turun 273,06 poin atau 5,27 persen, dari 5.185,11 menjadi 4.912,05.

Dalam situasi pasar yang bergejolak, Andi menilai investor perlu menentukan langkah berdasarkan batas kerugian yang dapat ditoleransi. Investor yang mengalami kerugian melampaui batas tersebut dapat mempertimbangkan cut loss, yakni menjual saham dalam posisi rugi untuk membatasi potensi kerugian lebih lanjut.

Sebaliknya, investor yang masih memiliki ruang untuk menanggung risiko perlu mengevaluasi kembali fundamental saham dan tujuan investasinya sebelum memutuskan untuk menjual atau mempertahankan kepemilikan.

“Di sisi lain, momentum seperti ini sebenarnya merupakan peluang untuk kita bisa ‘serok bawah’ dengan membeli dan mengakumulasi saham-saham yang memiliki fundamental bagus,” kata Andi kepada Kompas.com, Selasa (20/10/2026).

Investor Perlu Evaluasi Risiko dan Fundamental Saham

Menurut Andi, saham perusahaan dengan fundamental yang baik dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang, termasuk untuk memperoleh potensi keuntungan dari kenaikan harga dan pembagian dividen.

Namun, penurunan harga saham tidak serta-merta menjadikannya murah atau menarik untuk dibeli. Investor tetap perlu menilai kondisi keuangan perusahaan, prospek bisnis, valuasi saham, serta alasan di balik penurunan harganya.

Andi menilai investasi saham masih dapat dipertimbangkan meskipun IHSG sedang melemah. Meski demikian, investor perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan pasar karena pergerakan harga dapat berlangsung sangat dinamis.

“Di sisi lain, momentum seperti ini sebenarnya merupakan peluang untuk kita bisa ‘serok bawah’ dengan membeli dan mengakumulasi saham-saham yang memiliki fundamental bagus,” ujarnya.

Ia juga menilai saham masih menjadi salah satu instrumen investasi yang berpotensi memberikan imbal hasil, baik melalui selisih harga jual dan beli maupun dividen yang dibagikan emiten.

“IHSG ataupun harga saham yang tetiba anjlok merupakan hal yang sangat lumrah, dan merupakan natural dalam investasi yang berisiko tinggi seperti pasar saham maupun yang risikonya lebih tinggi lagi seperti pasar derivatif ataupun pasar kripto,” ujar Andi.

Meski demikian, risiko penurunan harga tetap perlu diperhitungkan. Investasi saham tidak menjamin keuntungan, sementara saham dengan fundamental baik sekalipun dapat mengalami tekanan harga dalam kondisi pasar tertentu.

Pergerakan Sejumlah Indeks Menguat pada Selasa Pagi

Pada perdagangan Selasa (20/10/2026) pagi, sejumlah indeks saham domestik menunjukkan pergerakan yang beragam. Berdasarkan data yang dikutip Kompas.com, pada pukul 09.00 WIB, indeks LQ45 menguat 1,29 persen ke posisi 494,77. Indeks KOMPAS100 naik 0,8 persen ke level 636, sedangkan IDX30 menguat 1,82 persen ke posisi 278,24.

Di kelompok indeks berbasis syariah, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 0,44 persen ke level 171,62. Sementara itu, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 0,57 persen ke posisi 289,47.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa saham dan indeks tidak selalu bergerak searah. Karena itu, investor perlu melihat kondisi masing-masing saham dan sektor, bukan hanya menjadikan pergerakan IHSG sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

Saham Unggulan Bergerak Beragam

Pada awal perdagangan Selasa, sejumlah saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 tercatat menguat.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 1,72 persen ke level 10.350. Saham PT Astra International Tbk (ASII) menguat 2,42 persen ke posisi 4.230, sedangkan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) naik 2,26 persen ke level 2.260.

Penguatan juga terjadi pada saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sebesar 2,58 persen ke posisi 1.195, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebesar 3,69 persen ke level 2.530, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 3,23 persen ke posisi 2.560.

Namun, beberapa saham justru melemah. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 4,89 persen ke level 3.310, sementara PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terkoreksi 3,55 persen ke posisi 950.

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 2,09 persen ke level 1.175, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 4,95 persen ke posisi 480. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga turun 0,21 persen ke level 4.810.

Di sektor perbankan, pergerakan sejumlah saham masih berada di zona positif. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 2,03 persen ke posisi 3.020, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 1,97 persen ke level 2.590.

Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) naik 3,53 persen ke posisi 880. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 4,17 persen ke level 3.500.

Perbedaan pergerakan saham tersebut memperlihatkan pentingnya evaluasi berdasarkan kondisi masing-masing emiten. Investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya karena harga saham turun tajam atau pasar mulai menunjukkan penguatan.

Pada akhirnya, menghadapi volatilitas IHSG membutuhkan disiplin dalam mengelola risiko, memahami fundamental perusahaan, dan menjaga kesesuaian investasi dengan tujuan keuangan. Strategi membeli saat harga turun dapat menjadi pertimbangan, tetapi tetap perlu didukung analisis dan kesiapan menghadapi risiko kerugian.

AL
Ayu LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update