Selasa, 03 Nov 2026 NewsDaerahEkonomiSosokTren
Breaking
Beranda › Tren
Tren

Jeda Sebelum Bereaksi: Mengapa Banjir Informasi Bisa Memicu Kebencian?

✍️ Ayu Lestari 🕒 27 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Ilustrasi media sosial. Terus melihat liburan, belanja, dan gaya hidup mewah di media sosial bisa membuat kita merasa tertinggal, padahal apa yang terlihat di linimasa bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.
Ilustrasi media sosial. Terus melihat liburan, belanja, dan gaya hidup mewah di media sosial bisa membuat kita merasa tertinggal, padahal apa yang terlihat di linimasa bukan gambaran utuh kehidupan seseorang. Foto: Pexels/Plann

UpdateYuk.id - Pada awal perkembangan teknologi informasi, keterbukaan akses terhadap pengetahuan dianggap sebagai jalan menuju masyarakat yang lebih tercerahkan. Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin besar pula harapan agar masyarakat mampu berpikir rasional dan membangun kehidupan demokrasi yang sehat.

Namun, perkembangan media sosial memperlihatkan kenyataan yang lebih kompleks. Demokratisasi informasi tidak selalu menghasilkan masyarakat yang lebih kritis. Sebaliknya, arus informasi yang terus mengalir, berulang, terpotong, dan tersebar tanpa henti dapat membuat publik kesulitan membedakan fakta, opini, dan manipulasi.

Situasi menjadi semakin rumit ketika informasi sengaja dirancang untuk membangkitkan kecemasan, ketakutan, kecurigaan, dan kemarahan. Isu mengenai suku, agama, ras, identitas, kepercayaan, hingga gender kerap menjadi bahan yang mudah digunakan untuk memancing reaksi emosional.

Di ruang digital, konten yang menyentuh emosi berpotensi menarik perhatian luas. Reaksi yang bermula dari unggahan di layar dapat berkembang menjadi kebencian, serangan terhadap orang yang berbeda pandangan, bahkan kerusuhan di dunia nyata. Batas antara ruang maya dan kehidupan sehari-hari ternyata tidak setegas yang sering dibayangkan.

Gelembung informasi yang membentuk realitas

Persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari cara industri informasi bekerja, terutama melalui media sosial. Perhatian manusia telah menjadi komoditas ekonomi. Konten yang mampu menarik perhatian pengguna memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan interaksi dan menjangkau audiens yang lebih luas.

Pada saat yang sama, algoritma mempelajari minat dan kebiasaan pengguna untuk menyajikan konten yang dianggap relevan. Akibatnya, seseorang semakin sering berhadapan dengan informasi yang sesuai dengan preferensi dan pandangannya sendiri.

Lama-kelamaan, kondisi tersebut tidak hanya membentuk gelembung informasi, tetapi juga gelembung realitas. Pandangan yang terus-menerus diperkuat dapat terasa seperti kebenaran yang berlaku bagi semua orang. Sementara itu, perspektif berbeda tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipahami, melainkan sebagai ancaman yang harus ditentang.

Ketika informasi dianggap menyerang identitas atau keyakinan seseorang, respons emosional semakin mudah muncul. Pola semacam ini bukan sepenuhnya fenomena baru dalam sejarah manusia.

Peristiwa 1965, dalam konteks sejarah dan politik yang berbeda, memperlihatkan bagaimana ketegangan, ketakutan, rumor, prasangka, dan propaganda dapat berkontribusi pada pelabelan kelompok tertentu sebagai ancaman. Kekerasan kemudian terjadi, termasuk terhadap orang-orang yang sebelumnya memiliki hubungan bertetangga, berteman, atau bersaudara.

Ketegangan sosial menjelang dan selama peristiwa 1998 juga menunjukkan bagaimana prasangka, kebencian, serta rumor terhadap kelompok tertentu dapat memperburuk situasi. Meski konteks setiap peristiwa berbeda, keduanya mengingatkan bahwa informasi dan persepsi yang berkembang di tengah masyarakat dapat berperan dalam membentuk hubungan antarkelompok.

Dalam politik kontemporer, media sosial turut memperluas ruang penyebaran perdebatan dan polarisasi. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017 menjadi salah satu contoh bagaimana perdebatan politik meluas melalui platform digital.

Fenomena serupa terlihat pada 2025, ketika potongan video pernyataan sejumlah wakil rakyat yang dinilai minim empati, isu kenaikan tunjangan DPR, serta insiden meninggalnya seorang pengemudi ojek online ramai diperbincangkan. Berbagai informasi tersebut memicu respons publik dan memperluas kemarahan di media sosial.

Teknologi komunikasi terus berkembang, tetapi tantangan mendasar manusia dalam mengelola emosi dan menilai informasi tetap relevan. Karena itu, persoalan ini tidak cukup dipahami sebagai masalah persebaran informasi semata. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana manusia mengambil keputusan ketika terus-menerus terpapar rangsangan emosional.

Jeda di antara emosi dan tindakan

Impulsivitas dapat dipahami sebagai kecenderungan merespons dorongan secara cepat tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan konsekuensinya. Emosi sendiri bukan sesuatu yang harus dihindari. Perasaan membantu manusia memahami keadaan dan mengambil keputusan. Masalah muncul ketika setiap rangsangan emosional langsung diterjemahkan menjadi tindakan.

Dalam buku Thinking, Fast and Slow (2011), Daniel Kahneman menjelaskan dua sistem dalam cara manusia berpikir. Sistem pertama bekerja secara cepat dan otomatis, menghasilkan kesan serta perasaan dengan sedikit usaha. Sistem kedua melibatkan perhatian dan proses berpikir yang lebih terarah untuk menimbang pilihan serta membuat keputusan secara sadar.

Proses berpikir yang lebih terarah membutuhkan waktu dan energi. Dalam konteks kehidupan digital, proses tersebut dapat dimulai dengan memberi jeda sebelum merespons sesuatu.

Jeda merupakan ruang antara informasi yang diterima dan tindakan yang akan dilakukan. Meski singkat, ruang ini memberi kesempatan bagi seseorang untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, dan mempertimbangkan akibat dari tindakannya.

Beberapa pertanyaan sederhana dapat membantu: Apakah informasi ini benar? Apa konteks lengkapnya? Siapa yang menyampaikan atau membuatnya? Apakah informasi tersebut sudah diperiksa dari sumber lain? Dan apakah bijak jika informasi itu diteruskan kepada orang lain?

Kebiasaan ini relevan dalam berbagai situasi digital. Misalnya, ketika membaca unggahan yang langsung dipercaya tanpa pemeriksaan, melihat video yang segera memicu kemarahan, atau menemukan orang dengan pandangan berbeda lalu buru-buru menghakiminya.

Sayangnya, mekanisme media sosial kerap mendorong respons cepat. Salah satu contohnya adalah clickbait, yakni penggunaan judul atau penyajian informasi yang dirancang untuk memancing rasa penasaran dan menarik klik.

Konten sensasional dapat memicu kemarahan, ketakutan, atau rasa ingin tahu. Pengguna kemudian mengeklik, berkomentar, atau membagikannya. Interaksi tersebut meningkatkan perhatian terhadap konten dan dapat membuatnya semakin terlihat oleh pengguna lain. Siklus ini berpotensi berulang.

Ketika pola serupa terjadi secara luas, impulsivitas individu dapat berkembang menjadi impulsivitas kolektif. Reaksi yang tidak didahului pemeriksaan informasi berisiko memperbesar prasangka, memperuncing pertentangan, dan mendorong tindakan yang merugikan orang lain.

Sejarah menunjukkan bahwa kerumunan yang digerakkan oleh ketakutan, kecurigaan, prasangka, dan kebencian dapat berujung pada tindakan ekstrem, mulai dari kerusuhan hingga kekerasan.

Paradoks informasi dalam demokrasi

Paradoks era digital terletak pada ketimpangan antara banyaknya informasi yang tersedia dan waktu yang digunakan untuk memahaminya. Masyarakat kini dapat mengakses informasi dalam jumlah yang jauh lebih besar, tetapi kelimpahan tersebut tidak otomatis membuat setiap orang lebih cermat dalam menilai apa yang diterima.

Demokrasi pun tidak hanya bergantung pada kebebasan berbicara dan berekspresi atau hak memberikan suara dalam pemilihan umum. Demokrasi juga membutuhkan kemampuan masyarakat memahami informasi, menimbang konsekuensi pilihan, dan menyadari dampak tindakan terhadap orang lain.

Dengan tingkat literasi, pendidikan, dan pemahaman yang beragam, kedewasaan dalam menghadapi arus informasi tidak dapat terbentuk secara instan. Kesadaran untuk mengambil jeda perlu dibangun melalui kebiasaan individu, pendidikan, dan tanggung jawab bersama.

Tantangannya semakin besar karena selalu ada kemungkinan pihak tertentu memanfaatkan isu sensitif untuk memengaruhi persepsi dan mengaduk emosi demi kepentingan tertentu. Karena itu, kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi menjadi bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, salah satu kemampuan penting manusia adalah menentukan respons terhadap sesuatu yang diterimanya. Tidak semua informasi harus langsung dipercaya, tidak semua provokasi harus ditanggapi, dan tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.

Di antara rangsangan dan tindakan, selalu ada ruang untuk memilih. Menggunakan ruang itu untuk berpikir, memeriksa, dan mempertimbangkan dampak tindakan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kualitas percakapan publik sekaligus kehidupan demokrasi.

AL
Ayu LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update