Selasa, 03 Nov 2026 NewsDaerahEkonomiSosokTren
Breaking
Beranda › Sosok
Sosok

Kisah Nordin, Relawan Pemadam Karhutla di Kalsel yang Sempat Mengeluh Nyeri Dada

✍️ Ayu Lestari 🕒 24 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
MENINGGAL DUNIA- Udin saat hendak dinaikkan ke dalam ambulans di lokasi kebakaran lahan, Rabu (21/10/2026). Relawan Damkar Sarimi Kayu Bulan Banjarmasin itu diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke fasilitas medis.
MENINGGAL DUNIA- Udin saat hendak dinaikkan ke dalam ambulans di lokasi kebakaran lahan, Rabu (21/10/2026). Relawan Damkar Sarimi Kayu Bulan Banjarmasin itu diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke fasilitas medis. Foto: banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman

UpdateYuk.id - Nordin, 51 tahun, relawan pemadam kebakaran yang gugur saat bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, meninggalkan istri dan tiga anak. Kepergiannya tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan seperjuangannya di Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Sarimi Kayu Bulan, kelompok relawan yang turut ia rintis.

Jenazah Nordin, yang akrab disapa Udin, tiba di rumah duka di Kompleks Kayu Bulan, Jalan Padat Karya, Kelurahan Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara, Rabu (21/10/2026) sore. Suara sirene ambulans dan mobil pemadam kebakaran mengiringi kedatangan jenazah, disusul tangis istri dan ketiga anaknya.

Sehari-hari, Nordin bekerja sebagai tukang bangunan dan pekerja serabutan. Di sela pekerjaannya, ia aktif menjadi relawan pemadam kebakaran. Bersama kerabatnya, ia mendirikan BPK Sarimi Kayu Bulan jauh sebelum putra sulungnya lahir.

Mengeluh Nyeri Dada Setelah Berjam-jam Memadamkan Api

Peristiwa yang merenggut nyawa Nordin terjadi ketika ia bersama tim BPK Kayu Bulan bertugas memadamkan karhutla di kawasan Simpang Empat Handil Bakti. Saat itu, hanya tiga personel yang turun langsung ke titik api.

Seorang anggota bertugas mengoperasikan mesin pompa, sedangkan dua lainnya, termasuk Nordin, memegang nozzle atau ujung selang untuk mengarahkan semprotan air ke kobaran api.

Rahmat, rekan seperjuangan Nordin, mengenang bahwa almarhum sempat mengeluhkan kelelahan setelah berjibaku dengan asap dan api selama berjam-jam.

"Beliau kecapean. Beliau bilang, 'Mat, gantian dulu'," kenang Rahmat, menirukan ucapan Nordin.

Tak lama kemudian, Nordin mengeluhkan rasa sakit yang hebat di bagian dada. Rahmat memintanya beristirahat dan berbaring terlebih dahulu.

"Saya minta beliau untuk coba rebahan dulu," kata Rahmat.

Melihat kondisi Nordin memburuk, rekan-rekannya segera memberikan pertolongan menggunakan tabung oksigen portabel. Namun, keluhan nyeri dada dan sesak napas tidak kunjung mereda.

"Sudah pakai oksigen, tapi masih sakit banget dadanya," tutur Rahmat.

Para relawan kemudian berupaya mengevakuasi Nordin ke rumah sakit. Karena ambulans belum tiba di lokasi, mereka sempat merencanakan membawa rekannya menggunakan kendaraan operasional. Tak lama berselang, ambulans datang dan langsung membawa Nordin menuju fasilitas medis.

Namun, kondisi Nordin terus menurun dalam perjalanan. Rahmat mengingat momen ketika rekannya menarik bajunya sambil memanggil namanya.

"Beliau menarik baju saya dan memanggil nama saya dengan berteriak. Sambil menggunakan oksigen. Setelah itu beliau memejamkan mata saja," ujar Rahmat.

Rahmat menduga Nordin telah meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Relawan Bertaruh Nyawa dengan Peralatan Terbatas

Kepergian Nordin juga menyoroti beratnya tugas relawan pemadam kebakaran dalam menangani karhutla di Kalimantan Selatan. Dalam sejumlah operasi, mereka harus bekerja di tengah asap pekat dan kobaran api dengan keterbatasan peralatan pelindung serta biaya operasional.

Rahmat menceritakan, untuk menjangkau titik api yang jauh, timnya kerap menyambungkan selang hingga tujuh rol dengan selang milik kelompok BPK lain. Upaya pemadaman terkadang berlangsung berjam-jam, bahkan hingga lewat waktu Isya.

"Pernah dari jam dua siang sampai habis Isya. Berapa kali kami mondar-mandir mendatangi titik api," ungkap Rahmat saat mengenang operasi pemadaman di dekat kampus Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska MAB) di Handil Bakti.

Dalam salah satu kejadian, besarnya kobaran api bahkan membuat Rahmat dan Nordin nyaris terkepung.

"Kami hampir menyerah awalnya. Karena kami yang mau dimakan api, jadi sudah ingin balik," akunya.

Setelah situasi dinilai terkendali dan mendapat arahan baru, mereka kembali bergerak untuk membantu pemadaman di lokasi lain.

Rahmat juga mengungkapkan bahwa alat pelindung diri (APD), seperti masker respirator dan kacamata pelindung yang diberikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), jumlahnya masih terbatas. Sementara itu, kebutuhan operasional BPK Kayu Bulan banyak ditopang dana pribadi ketua kelompok dan sumbangan masyarakat.

"Sejak mendirikan BPK, memang dari ketua saja, istilahnya dari dana ketua. Kami juga ada meminta sumbangan," tutur Rahmat.

Pesan Terakhir Nordin untuk Putra Sulungnya

Di rumah, Nordin dikenal sebagai ayah yang tegas, disiplin, tetapi penuh perhatian. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Rehan Maulana, 17 tahun, putra sulungnya yang kini duduk di kelas XI SMA.

Pada pagi sebelum kejadian, Rehan mengaku tidak merasakan firasat apa pun. Ayahnya masih menjalani rutinitas seperti memberi makan kucing dan burung peliharaan, mencuci sepeda motor, serta membelikan sarapan untuk keluarga.

Rehan baru menerima kabar duka sekitar pukul 12.00 WITA ketika mengikuti latihan persiapan lomba di sekolah.

"Saya kaget. Aduh, padahal Abah sehat-sehat saja. Pagi itu masih bangun, masih melakukan aktivitas, kami juga sempat makan bersama," kenang Rehan, dalam wawancara program Saksi Kata di kanal YouTube Banjarmasin Post News Video, Jumat (23/10/2026).

Menurut Rehan, Nordin tidak langsung memarahi anak-anak ketika mereka melakukan kesalahan. Ayahnya lebih sering menegur dan membetulkan kesalahan dengan sabar. Nordin juga terbiasa membantu pekerjaan rumah tangga, termasuk mencuci piring ketika tidak sedang bekerja sebagai tukang bangunan.

Sebelum berangkat menjalankan tugas ke Barito Kuala, Nordin sempat menyampaikan pesan yang kini terus diingat putra sulungnya.

"Beliau bilang kepada saya, 'semisal abah kadada lagi, ikam yang melanjutakan ading-ading itu. Amun kawa ikam sukses, jadi ading-ading kada ampih sekolah. Kalau bisa sama-sama kalian sukses,' begitu. Beliau juga meminta saya untuk membantui mama," kata Rehan dengan tatapan mata kosong menahan kesedihan.

Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, Rehan kini bertekad membantu ibunya dan menjaga agar kedua adiknya tetap bisa bersekolah.

Keluarga Nordin hidup dengan kondisi ekonomi sederhana. Mereka tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sewa Rp 500.000 per bulan, belum termasuk listrik. Sementara itu, ibu Rehan bekerja sebagai petugas kebersihan di tempat pembuangan sampah.

Rehan berencana mencari pekerjaan ringan yang bisa dilakukan sepulang sekolah tanpa mengorbankan pendidikannya.

"Ke depannya paling saya mulai cari kerjaan-kerjaan yang mudah, yang bisa saya lakukan. Misalnya pulang sekolah bantu-bantu orang atau cari kerjaan yang gampang, biar mama tidak terbebani," ujarnya.

Di tengah kehilangan tersebut, Rehan juga menyampaikan pesan kepada para relawan yang masih bertugas memadamkan karhutla agar tidak mengabaikan keselamatan diri.

"Jangan lupa pakai masker, terutama masker yang diberikan pemerintah. Jangan memakai masker kain karena asap masih bisa masuk. Kalau memang capek, sesak napas, langsung bilang kepada teman-temannya. Kalau memang tidak sanggup, jangan dipaksa," tutur Rehan.

Jenazah Nordin telah dimakamkan di alkah keluarga Gang Saka Bada, Jalan Antasan Kecil, Banjarmasin.

Pemkab Batola Berikan Santunan Rp 10 Juta

Kabar gugurnya Nordin saat membantu penanganan karhutla di wilayah Barito Kuala turut mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Barito Kuala. Bupati Batola, Bahrul Ilmi, mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan apresiasi atas pengabdian Nordin dan para relawan pemadam kebakaran dari Banjarmasin.

Dalam kunjungannya, Bahrul mengetahui bahwa keluarga Nordin masih tinggal di rumah sewaan dan memiliki tiga anak yang masih bersekolah.

"Tadi saya sempat berbincang dengan istri almarhum, ternyata tinggal di rumah sewaan dan pindah-pindah. Beliau juga memiliki tiga anak yang masih sekolah," ujar Bahrul.

Pemkab Batola menawarkan sejumlah bentuk bantuan, meliputi penyediaan rumah di wilayah Batola, fasilitasi keberlanjutan pekerjaan bagi istri almarhum, serta bantuan agar anak-anak Nordin dapat bersekolah di Sekolah Rakyat di Batola. Pelaksanaan bantuan tersebut disesuaikan dengan keputusan dan kesediaan keluarga.

Selain tawaran tersebut, pemerintah daerah menyerahkan santunan tunai sebesar Rp 10 juta untuk membantu kebutuhan mendesak keluarga yang ditinggalkan.

“Kita juga memberikan santunan Rp 10 juta. Mudah-mudahan itu bisa membantu keluarga beliau,” tambah Bahrul.

Bahrul juga mengimbau para relawan pemadam kebakaran agar menjadikan keselamatan jiwa sebagai prioritas utama selama operasi penanganan karhutla.

“Saya pribadi atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih banyak kepada relawan Banjarmasin yang selama ini banyak membantu penanganan kebakaran ini,” pungkasnya.

Kepergian Nordin menjadi kehilangan bagi keluarga dan komunitas relawan yang selama ini bekerja di garis depan penanganan kebakaran. Di balik pengabdian tersebut, kisahnya sekaligus mengingatkan pentingnya perlindungan, peralatan memadai, dan penanganan kesehatan bagi relawan yang menghadapi risiko tinggi saat bertugas.

AL
Ayu LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update