Negara Tropis tapi Buah Mahal, Ekonom Ungkap Masalah Produksi hingga Logistik
UpdateYuk.id - Harga buah dan ikan di Indonesia masih dipengaruhi berbagai persoalan, mulai dari proses produksi yang belum efisien, biaya logistik yang tinggi, hingga tata niaga yang belum optimal. Kondisi ini membuat kekayaan alam Indonesia sebagai negara tropis dengan wilayah laut yang luas tidak selalu berbanding lurus dengan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Persoalan tersebut kembali menjadi perbincangan di media sosial Threads. Seorang pengguna menyoroti kondisi Indonesia sebagai negara tropis, tetapi harga buah dinilai mahal sehingga masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan berbahan tepung.
“Negara tropis, tapi buah mahal, hasilnya makan tepung-tepungan,” tulis akun @wor********* pada Senin (14/9/2026).
Dalam kolom balasan, sejumlah pengguna turut menyoroti persoalan rantai dingin (cold chain), ongkos pengangkutan, serta kerusakan produk selama distribusi yang dinilai ikut mendorong harga buah dan ikan.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan harga kedua komoditas tersebut relatif mahal, yakni inefisiensi produksi, tingginya biaya logistik yang disertai kerusakan produk, serta tata niaga yang belum berjalan dengan baik.
"Sebab harga mahal ada 3, proses produksi yang belum efisien, proses logistik yang mahal dan banyak produk rusak di perjalanan, dan tata niaga produk yang buruk," jelas Wijayanto ketika dihubungi Kompas.com pada Minggu (25/10/2026).
1. Produksi Pertanian dan Perikanan Belum Efisien
Menurut Wijayanto, salah satu persoalan dalam produksi buah berkaitan dengan keterbatasan lahan yang dimiliki petani. Luas lahan yang relatif sempit menyulitkan penerapan mekanisasi pertanian, sementara akses pembiayaan untuk membeli peralatan juga masih menjadi kendala.
“Petani kita mempunyai lahan yang relatif sempit sehingga mekanisasi pertanian sulit dilakukan, apalagi mereka mengalami kesulitan mendapatakan kredit untuk mengadakan alat-alat pertanian,” kata Wijayanto.
Keterbatasan tersebut dapat menghambat peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya produksi. Ketika biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tetap tinggi, tekanan harga dapat berlanjut hingga ke tingkat konsumen.
Tantangan serupa juga terlihat di sektor perikanan. Wijayanto mengatakan, mayoritas kapal nelayan Indonesia berukuran relatif kecil sehingga kurang efisien dan memiliki keterbatasan untuk menjangkau wilayah laut yang lebih jauh.
Selain ukuran kapal, fasilitas pendingin dan pemrosesan ikan yang belum memadai turut menjadi persoalan. Nelayan perlu lebih sering kembali ke daratan untuk menjaga hasil tangkapan, sehingga kegiatan melaut dan pengangkutan ikan belum dapat dilakukan seefisien kapal modern yang memiliki fasilitas pengolahan serta pendinginan.
"Ini berbeda dengan kapal nelayan asing yang modern yang dilengkapi dengan pendingin sekaligus fasilitas pemrosesan ikan, sehingga segalanya bisa jauh lebih efisien," kata Wijayanto.
2. Biaya Logistik Tinggi dan Produk Rusak di Perjalanan
Faktor berikutnya adalah biaya distribusi. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan jaringan transportasi dan fasilitas penyimpanan yang mampu menghubungkan sentra produksi dengan pasar konsumen. Ketika proses pengangkutan belum efisien, biaya tambahan tersebut dapat meningkatkan harga jual.
"Biaya pengangkutan yang mahal akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga jual produk yang lebih mahal," jelasnya.
Persoalan semakin besar ketika buah dan ikan mengalami kerusakan selama perjalanan. Produk pertanian dan perikanan memiliki karakteristik yang mudah rusak sehingga membutuhkan penanganan, penyimpanan, dan pengangkutan yang sesuai.
Wijayanto mencontohkan sebuah studi yang memperkirakan sebanyak 23,2 persen jeruk siam dari Garut rusak ketika diangkut menuju Jakarta. Menurutnya, potensi kerusakan dapat lebih besar jika jeruk dikirim dari Medan.
“Hal ini juga terjadi untuk hampir semua produk pertanian dan perikanan, kendatipun prosentasenya bervariasi,” ujar Wijayanto.
Kerusakan produk membuat sebagian hasil panen atau tangkapan tidak dapat dijual dalam kondisi yang layak. Akibatnya, biaya yang telah dikeluarkan untuk produksi dan distribusi harus ditanggung oleh jumlah produk yang masih bisa dipasarkan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan harga jual produk yang tersisa.
Karena itu, penguatan rantai dingin, fasilitas penyimpanan, dan sistem distribusi menjadi bagian penting dalam menekan kehilangan produk sekaligus menjaga kualitas buah dan ikan hingga sampai ke konsumen.
3. Tata Niaga Belum Optimal
Selain produksi dan logistik, struktur perdagangan juga berpengaruh terhadap harga buah dan ikan. Wijayanto menilai ketidakseimbangan pasokan serta tata niaga yang belum optimal dapat memicu perubahan harga di tingkat pasar.
"Situasi oversupply dan undersupply seringkali terjadi, lalu seringkali mafia dan tengkulak ikut mempermainkan harga," jelas Wijayanto.
Kondisi oversupply terjadi ketika pasokan melebihi permintaan, sedangkan undersupply muncul saat barang yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan pasar. Ketidakseimbangan tersebut dapat menyebabkan harga berfluktuasi dan menyulitkan petani maupun pelaku usaha perikanan memperoleh kepastian pendapatan.
Wijayanto juga menyoroti beban pembiayaan yang harus ditanggung produsen. Menurutnya, keterlibatan rentenir dalam pembiayaan usaha dapat menambah biaya produksi dan pada akhirnya turut menekan harga jual.
"Belum lagi kehadiran rentenir yang ikut mendongkrak biaya produksi lebih tinggi yang ujung-ujungnya harga jual yang meningkat," pungkas Wijayanto.
Dengan demikian, mahalnya harga buah dan ikan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lahan pertanian atau luas wilayah laut. Efisiensi produksi, sarana penyimpanan, ongkos distribusi, kehilangan produk selama pengangkutan, serta tata niaga menentukan bagaimana biaya terbentuk sebelum komoditas sampai ke tangan konsumen.
Perbaikan di sepanjang rantai pasok tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk mengurangi pemborosan, menjaga kualitas produk, dan meningkatkan keterjangkauan buah serta ikan bagi masyarakat.
