Selasa, 03 Nov 2026 NewsDaerahEkonomiSosokTren
Breaking
Beranda › Sosok
Sosok

Profil Luo Fuli, Peneliti DeepSeek yang Kini Bergabung dengan Xiaomi

✍️ Ayu Lestari 🕒 28 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Luo Fuli
Luo Fuli Foto: Dok. Baidu Wiki via Deepseek

UpdateYuk.id - Luo Fuli, peneliti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) asal China yang berkontribusi dalam pengembangan DeepSeek, kini bergabung dengan Xiaomi untuk mengembangkan teknologi AI perusahaan tersebut. Perjalanan kariernya menarik perhatian publik, mulai dari latar belakang keluarga sederhana hingga menjadi salah satu talenta yang diperhitungkan di industri AI.

Perempuan berusia 30 tahun itu dilaporkan bekerja pada pengembangan Xiaomi MiMo, model bahasa besar (large language model/LLM) pertama perusahaan teknologi tersebut, menurut The Standard.

Nama Luo semakin dikenal setelah terlibat dalam pengembangan DeepSeek-V2. Keberhasilan model AI itu membuatnya menjadi salah satu peneliti yang menarik perhatian perusahaan teknologi besar. Chairman Xiaomi, Lei Jun, bahkan dilaporkan pernah menawarkan gaji tahunan puluhan juta yuan kepadanya untuk memimpin tim riset dan pengembangan AI.

Namun, laporan mengenai tawaran gaji tersebut tidak menyertakan angka pasti ataupun rincian nilai gaji bulanan. Setelah berbulan-bulan menjadi perbincangan di media sosial, Luo akhirnya mengonfirmasi bergabung dengan Xiaomi pada pekan lalu.

Berawal dari Keluarga Sederhana di Sichuan

Sebelum dikenal sebagai peneliti AI, Luo Fuli tumbuh di sebuah desa kecil di Provinsi Sichuan, China. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai teknisi listrik, sedangkan ibunya berprofesi sebagai guru.

Saat kecil, Luo hampir tidak memiliki akses terhadap komputer. Meski demikian, ia sudah tertarik pada logika dan algoritma. Minatnya terhadap teknologi berkembang melalui buku-buku yang dibacanya dari perpustakaan komunitas setempat, sebagaimana dilaporkan NDTV.

Pada 2016, Luo diterima di School of Information Technology, Beijing Normal University. Memasuki lingkungan kampus, ia menghadapi tantangan karena belum memiliki banyak pengalaman menggunakan komputer, sementara rekan-rekannya mempunyai kemampuan akademik yang tinggi.

Dalam ujian pertamanya, Luo justru menempati peringkat bawah di kelas. Hasil itu sempat mengguncang kepercayaan dirinya dan membuatnya mempertanyakan kemampuan untuk berkarier di bidang teknologi.

Alih-alih menyerah, Luo meningkatkan intensitas belajarnya. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan sejak pagi dan mempelajari pemrograman dengan menyalin kode sumber, menghafalnya, serta memahami logika di balik setiap baris kode.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Dari posisi bawah, ia berhasil berkembang menjadi salah satu mahasiswa terbaik di kelas.

Luo kemudian melanjutkan pendidikan magister di Peking University dengan fokus pada Natural Language Processing (NLP), cabang AI yang memungkinkan komputer memproses dan memahami bahasa manusia.

Sempat Menangis karena Tekanan Penelitian

Perjalanan akademik Luo tidak selalu berjalan mulus. Selama menempuh pendidikan di Peking University, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di laboratorium untuk menyelesaikan penelitian.

Tekanan pengerjaan tesis bahkan membuatnya harus mempersingkat waktu bersama keluarga saat perayaan Tahun Baru Imlek. Ia kembali ke kampus lebih awal agar dapat melanjutkan penulisan tesis.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan emosional bagi Luo.

"Ketika saya kembali ke asrama dan mendengar kembang api di luar, saya berbaring di tempat tidur dan tidak bisa berhenti menangis," katanya, dikutip dari VNExpress.

Meski menghadapi tekanan tersebut, Luo berhasil menghasilkan delapan makalah ilmiah yang diterbitkan di ACL, konferensi terkemuka dalam bidang NLP. Dua di antaranya menempatkannya sebagai penulis utama.

Prestasi itu membuat namanya semakin dikenal di Zhihu, platform tanya jawab populer di kalangan akademisi dan intelektual China. Ia kemudian menerima berbagai tawaran, mulai dari menulis buku hingga membuat kursus.

"Beberapa orang mengundang saya untuk menulis buku, beberapa menawarkan pembuatan kursus, bahkan perusahaan manajemen talenta juga menghubungi saya," ungkapnya.

Luo memilih menolak tawaran-tawaran tersebut karena ingin berfokus mengembangkan karier di bidang teknologi.

Dari Alibaba hingga Menjadi Bagian dari DeepSeek

Setelah menyelesaikan pendidikan, Luo bergabung dengan DAMO Academy, lembaga riset milik Alibaba. Di sana, ia terlibat dalam proyek AliceMind dan memimpin pengembangan VECO, model pralatih lintas bahasa.

VECO mendapat pengakuan dari kalangan akademisi dan industri, serta menjadi salah satu dari delapan model inti dalam sistem AliceMind.

Pada 2022, Luo meninggalkan DAMO Academy dan bergabung dengan perusahaan investasi High-Flyer. Di perusahaan tersebut, ia mengerjakan pengembangan model deep learning atau pembelajaran mendalam.

Setahun kemudian, Luo menjadi salah satu insinyur kunci dalam pengembangan DeepSeek-V2. Model tersebut menggunakan arsitektur Mixture of Experts (MoE), pendekatan yang memungkinkan sistem AI mengaktifkan bagian model tertentu sesuai kebutuhan pemrosesan.

Luo menyebut DeepSeek-V2 mampu bersaing dengan model AI terkemuka dunia dalam kemampuan berbahasa Mandarin, dengan biaya pengembangan dan penggunaan yang hanya sebagian kecil dari GPT-4.

Keterlibatannya dalam pengembangan model tersebut turut meningkatkan reputasinya di industri AI. Keahlian yang dimilikinya membuat Luo menjadi salah satu talenta yang diperhatikan perusahaan teknologi besar.

Bergabung dengan Xiaomi untuk Mengembangkan AI

Ketertarikan Xiaomi terhadap Luo dilaporkan muncul seiring meningkatnya perhatian industri terhadap kemampuannya dalam pengembangan AI. Dalam siaran akhir tahun 2024, Chairman Xiaomi Lei Jun dilaporkan menawarkan gaji tahunan puluhan juta yuan agar Luo memimpin tim riset dan pengembangan AI perusahaan.

Meski nilai pasti tawaran tersebut tidak dipublikasikan, kabar mengenai nominal gajinya memicu perbincangan luas di media sosial.

Spekulasi mengenai apakah Luo menerima tawaran itu berlangsung selama berbulan-bulan. Ia kemudian mengonfirmasi bergabung dengan Xiaomi pada pekan lalu.

Menurut The Standard, Luo kini mengerjakan Xiaomi MiMo, model bahasa besar yang menjadi bagian dari pengembangan teknologi AI perusahaan tersebut.

Perpindahan ini menandai babak baru dalam kariernya, setelah meniti perjalanan dari dunia akademik, lembaga riset Alibaba, hingga pengembangan model AI di DeepSeek.

Luo Fuli Soroti Masa Depan AI di Luar Bahasa

Meski kini bekerja di perusahaan teknologi besar, perhatian Luo tetap tertuju pada perkembangan teknologi AI. Dalam unggahan terbarunya di media sosial, ia menyoroti arah pengembangan kecerdasan buatan yang menurutnya akan melampaui kemampuan memahami bahasa.

Ia menilai AI ke depan perlu mengembangkan kemampuan untuk memahami lingkungan fisik, melakukan penalaran, menghasilkan keluaran multimodal, dan mengambil tindakan.

"Kecerdasan pada akhirnya akan berkembang dari bahasa menuju dunia fisik, membuka kecerdasan spasial untuk persepsi, penalaran, generasi, dan tindakan multimodal, yang penting bagi AGI (artificial general intelligence) sejati," tulisnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan salah satu arah pengembangan AI, yakni menuju sistem yang tidak hanya memproses bahasa, tetapi juga mampu memahami informasi dari berbagai jenis data dan berinteraksi dengan lingkungan fisik. Bagi Luo, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan artificial general intelligence (AGI), atau kecerdasan buatan umum.

AL
Ayu LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update