Vietnam Tumbuh 9,95% pada Kuartal III 2026, Airlangga Ungkap Faktor Pendorongnya
UpdateYuk.id - Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 9,95% pada kuartal III 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut sejumlah kebijakan perdagangan dan pengembangan industri menjadi faktor yang mendukung laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Salah satu faktor yang disoroti Airlangga adalah kepemilikan perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) dengan berbagai negara, termasuk di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Perjanjian tersebut dinilai memberikan keuntungan bagi Vietnam dalam mengakses pasar internasional.
"Sehingga bea masuk rata-rata Vietnam itu ke seluruh dunia nol persen, sedangkan Indonesia 10 sampai 15 persen," ungka Airlangga di Bappenas, Jakarta pada Senin (19/10/2026).
Selain dukungan dari perjanjian perdagangan, Vietnam juga mengandalkan ekspor produk elektronik yang permintaannya meningkat seiring perkembangan era digital. Airlangga menyebut porsi ekspor elektronik negara tersebut mencapai hampir 40%.
Faktor lainnya adalah keberadaan 1,8 juta kawasan ekonomi khusus yang disebut dapat menjadi daya tarik bagi investasi asing. Masuknya investasi tersebut turut mendukung aktivitas ekonomi domestik Vietnam.
Airlangga menilai Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk mengembangkan industri elektronik. Namun, menurutnya, sektor tersebut pernah dikesampingkan karena dinilai tidak menyerap banyak tenaga kerja.
"Kita pernah menggeser yang namanya industri elektronik, karena industri elektronik itu robotik dan kita merasa bahwa kalau industri itu tidak padat karya, maka dia tidak punya hak untuk hidup di republik," ujar Airlangga.
Ia juga menyinggung peluang Indonesia untuk mempercepat industrialisasi melalui pengembangan industri penerbangan, termasuk produksi pesawat CN 235. Menurut Airlangga, perjalanan pengembangan industri dirgantara nasional menghadapi berbagai tantangan.
"Bahkan kita hampir lepas landas pada tahun 90-an. Cuman kalau kita mau lepas landas, banyak negara tidak suka. Mereka ingin supaya Indonesia tetap di landasan. Salah satu contoh kita bicara mengenai industri Dirgantara," ungkap Menko ekonomi.
Airlangga menjelaskan bahwa pengembangan CN 235 merupakan salah satu terobosan industri nasional. Ia turut menyinggung rencana pengembangan pesawat berkapasitas hingga 100 penumpang dan pandangan Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai industri pesawat terbang Indonesia.
"Nah, pada waktu kita kembangkan CN235, itu terobosan. Dan masalah turboprop dan jet engine, tidak persoalan karena turboprop dan jet engine juga relatif maju bersama. Dan pada saat kita mau mendorong ke 100 penumpang, dunia kaget. Dan waktu itu IMF mengatakan Indonesia enggak boleh punya industri pesawat terbang karena ini industri yang apa? dekat dengan masyarakat," sambungnya.
Saat ini, menurut Airlangga, perkembangan digitalisasi menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi industri. Kesempatan tersebut terbuka karena negara-negara di dunia tengah menghadapi perubahan teknologi secara bersamaan, sementara Indonesia memiliki pasar domestik yang besar.
"Digitalisasi ini scoping-nya sangat luas. Dan ini adalah kesempatan karena semua negara pada saat sekarang itu menghadapi revolusi industri dan transformasi secara bersama-sama. Jadi tidak ada tentu yang negara yang maju saat sekarang seperti China maupun Amerika terutama terkait dengan ke depannya AI, artificial intelligence dan quantum computing," ucapnya.
