Bahlil: Krisis Energi Global Belum Berakhir Meski AS dan Iran Sepakati Perdamaian
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menilai krisis energi global masih berlanjut hingga akhir 2026 meski AS dan Iran telah mencapai kesepakatan damai serta membuka kembali Selat Hormuz.
UPDATEYUK - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai kondisi sektor energi global belum akan sepenuhnya pulih meski Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan damai sementara yang diikuti dengan dibukanya kembali Selat Hormuz.
Menurut Bahlil, pemerintah memilih menggunakan proyeksi yang lebih hati-hati dalam menyusun kebijakan energi nasional. Ia menilai dampak konflik geopolitik terhadap pasar energi masih akan terasa hingga penghujung tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2026, Kamis (25/6/2026).
"Sampai dengan Desember dinamika masih akan seperti ini terus. Saya tidak mau jadikan baseline yang bagus-bagus, kemudian dampaknya nanti susah untuk kita ukur. Mendingan saya katakan bahwa perang masih terjadi," ujar Menteri ESDM.
Pemulihan Pasar Energi Dinilai Tidak Instan
Bahlil menjelaskan, tercapainya kesepakatan politik antara negara-negara yang berkonflik tidak serta-merta membuat sektor energi kembali normal.
Menurutnya, proses pemulihan rantai pasok, distribusi, hingga stabilitas harga energi membutuhkan waktu yang lebih panjang dibandingkan penyelesaian konflik secara diplomatik.
"Untuk energi tidak akan secepat dibandingkan dengan keputusan daripada apa yang disepakati oleh beberapa negara yang bertikai," kata dia.
Karena itu, pemerintah tetap mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi ketahanan energi nasional hingga akhir 2026.
Selat Hormuz Kembali Dibuka
Pernyataan Bahlil muncul di tengah membaiknya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perdamaian sementara.
Baca Juga: PLN Minta Warga Tetap Waspada, Gangguan Listrik di Jawa Timur Masih Berpotensi Terjadi
Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu utama distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara.
Pembukaan kembali jalur tersebut dinilai memberikan dampak positif terhadap pasokan minyak dunia karena distribusi energi kembali berjalan lebih lancar.
Seiring meningkatnya pasokan, harga minyak mentah global juga mulai menunjukkan tren penurunan.
Kesepakatan Damai Libatkan Pembukaan Jalur Pelayaran
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka setelah tercapainya kesepakatan damai sementara dengan Iran.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perjanjian tersebut sebagai langkah penting menuju stabilitas kawasan.
Baca Juga: Lansia Terjatuh ke Sumur Saat Pemadaman Listrik di Ciamis, Berhasil Dievakuasi Selamat
Kesepakatan itu tidak hanya mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, tetapi juga penghentian blokade laut terhadap Iran serta komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Meski demikian, pemerintah Indonesia menilai perkembangan tersebut belum cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa kondisi sektor energi dunia telah sepenuhnya stabil. (*)
