OJK Sebut Jasa Keuangan Indonesia Tetap Stabil di Tengah Tekanan Ekonomi Global
UpdateYuk.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga stabil meskipun tekanan ekonomi global terus meningkat. Konflik geopolitik, kenaikan harga energi, inflasi, serta prospek suku bunga tinggi menjadi sejumlah tantangan yang memengaruhi kondisi pasar keuangan internasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan, kenaikan harga energi akibat eskalasi konflik geopolitik masih menjadi faktor penting yang mendorong inflasi global. Sejumlah negara, termasuk Jepang dan Inggris, bahkan mencatat inflasi di atas rentang sasaran yang ditetapkan.
"Dinamika inflasi global masih dipengaruhi oleh kenaikan harga energi seiring eskalasi konflik geopolitik," kata Friderica dalam Rapat Dewan Komisioner Bulan Oktober 2026, Kamis (5/11/2026).
Tekanan harga tersebut membuat sejumlah bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi ini diperkirakan berlanjut, dengan suku bunga acuan global berpotensi tetap tinggi hingga 2027.
Pada saat yang sama, ruang fiskal pemerintah di berbagai negara semakin terbatas. Akibatnya, kemampuan untuk memberikan stimulus dan subsidi juga menyusut. Tekanan tersebut terlihat di Eropa, ketika kenaikan harga barang turut mengurangi daya beli masyarakat.
"Sejumlah negara bahkan menghadapi kebutuhan konsolidasi fiskal melalui penyesuaian anggaran belanja pemerintah," tuturnya.
Investor Global Cenderung Mengambil Sikap Risk-Off
Friderica menilai tekanan ekonomi dan keterbatasan fiskal berpotensi meningkatkan ketegangan sosial serta memicu ketidakstabilan di sejumlah negara.
Ekspektasi suku bunga tinggi yang dibarengi risiko politik global turut mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Sikap menghindari risiko atau risk-off tersebut tercermin dari koreksi saham-saham teknologi di pasar internasional.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara terus meningkat hingga menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Konsumsi dan Aktivitas Manufaktur Domestik
Di dalam negeri, OJK mencermati kecenderungan masyarakat yang semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang. Kenaikan inflasi domestik terutama dipicu oleh harga pangan, meskipun pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti masih relatif terkendali.
Kendati demikian, penjualan kendaraan bermotor masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Salah satu pendorongnya adalah peningkatan penjualan mobil listrik.
"Penjualan kendaraan bermotor tumbuh cukup solid terutama didorong oleh penjualan mobil listrik," jelasnya.
Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur Indonesia juga memperlihatkan penguatan. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur pada Oktober 2026 tercatat naik ke level 54, sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak Maret 2024.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2026 mencapai 5,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Friderica menyampaikan, pertumbuhan tersebut berlangsung di seluruh lapangan usaha. Perkembangan ini menggambarkan aktivitas ekonomi domestik yang masih tumbuh positif di tengah tekanan dan ketidakpastian global.
