KSSK Sebut Stabilitas Keuangan Terjaga, Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,5% pada 2026
UpdateYuk.id - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kondisi sistem keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang kuartal III-2026. Meski menghadapi tekanan global dan gejolak pasar domestik, perekonomian nasional diperkirakan tumbuh 5,4%-5,5% sepanjang 2026.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, ketahanan tersebut ditopang koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Sinergi antarlembaga dinilai penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
Namun, tekanan eksternal kembali meningkat pada Oktober 2026. Eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi dunia, serta kebijakan moneter ketat di sejumlah negara maju turut memengaruhi pasar keuangan global.
Di dalam negeri, pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham Indonesia dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga memicu peningkatan arus modal keluar, terutama dari pasar saham.
"KSSK yang terdiri atas Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua DK OJK, dan Ketua DK LPS akan terus mencermati dan melakukan asesmen yang bersifat forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan. Kami akan terus memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global," ujar Suahasil dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Di tengah tekanan tersebut, konsumsi masyarakat, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor masih menjadi penopang permintaan domestik. Pemerintah juga memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam gejolak ekonomi atau shock absorber.
Peran APBN dijalankan melalui berbagai instrumen, seperti subsidi, kompensasi, bantuan sosial, stabilisasi harga pangan, hingga program penciptaan lapangan kerja.
Sejumlah indikator ekonomi turut menunjukkan perkembangan positif. Penjualan mobil pada September 2026 tercatat tumbuh 28,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan penjualan sepeda motor meningkat 15,4% yoy.
Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4%-5,5% sepanjang tahun ini.
"Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan BI, serta kolaborasi pemerintah dan Danantara melalui pendekatan two arms of the state, terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi," jelas Suahasil.
Realisasi APBN hingga Kuartal III-2026
Dari sisi fiskal, pendapatan negara hingga akhir kuartal III-2026 mencapai Rp2.341,5 triliun. Angka tersebut tumbuh 25,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, belanja negara terealisasi sebesar Rp2.660,5 triliun atau meningkat 19% secara tahunan. Sementara itu, pembiayaan anggaran tercatat Rp462 triliun, tumbuh 0,4% yoy.
Suahasil menjelaskan, pemerintah mengelola pembiayaan anggaran secara hati-hati dan terukur dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kredibilitas dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.
Selain mengandalkan pembiayaan utang, pemerintah juga mengoptimalkan pembiayaan investasi untuk mendukung kesejahteraan masyarakat serta mempercepat berbagai program pembangunan.
"Pengelolaan pembiayaan juga didukung oleh pembiayaan investasi yang dikelola untuk perbaikan kesejahteraan masyarakat dalam mendukung akselerasi pangan, pertanian, perumahan, pendidikan, dan infrastruktur," pungkas Suahasil.
