Kamis, 05 Nov 2026 NewsDaerahEkonomiSosokTren
Breaking
Beranda › Tren
Tren

Media Singapura Soroti Pernyataan Bahlil soal Ekspor Listrik Indonesia

✍️ Ayu Lestari 🕒 04 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memberi paparan dalam pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memberi paparan dalam pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (2/11/2026). Foto: ANTARA/Putu Indah Savitri

UpdateYuk.id - Media Singapura, Channel News Asia (CNA), menyoroti pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai rencana ekspor listrik Indonesia. Pemerintah menyatakan belum akan mengekspor listrik dalam waktu dekat karena pasokan energi masih dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.

Dalam laporan yang diterbitkan Selasa (3/11/2026), CNA mengulas pernyataan Bahlil yang disampaikan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11/2026). Meski belum membuka peluang ekspor dalam waktu dekat, Bahlil menyebut perdagangan listrik ke luar negeri tetap memungkinkan apabila harga yang ditawarkan sesuai dengan ketentuan pemerintah Indonesia.

"Selama harganya cocok dan mereka mengikuti harga kita, tentu saja memungkinkan. Namun, jika harganya tidak sesuai, kami akan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri," kata Bahlil, sebagaimana dikutip CNA.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan energi nasional menjadi pertimbangan utama pemerintah sebelum memasok listrik ke negara lain.

Sebelumnya, Bahlil juga menyampaikan hal serupa dalam acara Mineral and Coal Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 di Jakarta. Ia mengatakan Indonesia masih membutuhkan pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan domestik sehingga belum dapat melakukan ekspor dalam waktu dekat.

"Indonesia dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik. Kita masih membutuhkan listrik," ujarnya.

Singapura Berencana Impor Listrik dari Indonesia

Pemberitaan CNA tersebut berkaitan dengan rencana Singapura mengimpor listrik rendah karbon dari Indonesia. Sebelumnya, pemerintah Singapura telah memberikan persetujuan bersyarat kepada sejumlah perusahaan untuk melakukan impor listrik rendah karbon dari Indonesia.

Rencana kerja sama lintas negara itu menjadi bagian dari upaya Singapura memenuhi kebutuhan energi sekaligus mempercepat peralihan menuju penggunaan energi yang lebih bersih.

Namun, pernyataan terbaru Bahlil menunjukkan bahwa realisasi ekspor masih bergantung pada kecukupan pasokan listrik di dalam negeri serta kesepakatan harga dengan negara pembeli.

Bahlil mengatakan pemerintah telah melakukan penghitungan mengenai harga listrik yang akan dijual ke luar negeri. Ia juga mengingatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) agar tidak terpengaruh lobi pihak asing yang berupaya menekan harga jual listrik Indonesia.

Menurut Bahlil, kerja sama perdagangan energi harus memberikan nilai ekonomi yang layak bagi Indonesia. Karena itu, pemerintah perlu memastikan harga jual listrik sesuai dengan perhitungan dan kepentingan nasional.

Bahlil Tegaskan Izin Ekspor Berada di Kementerian ESDM

Bahlil juga menegaskan bahwa kewenangan pemberian izin ekspor listrik berada di tangan Kementerian ESDM, bukan Danantara.

Ia meminta Danantara tidak mudah terpengaruh pendekatan maupun lobi dari negara calon pembeli yang menginginkan harga lebih rendah. Pemerintah, kata dia, harus tetap mengutamakan kepentingan nasional dalam setiap kerja sama perdagangan energi.

Sebelumnya, Indonesia dan Singapura telah menjajaki kerja sama perdagangan listrik lintas negara, khususnya pasokan listrik rendah karbon dari Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi dan pengembangan energi terbarukan di Indonesia, sekaligus mendukung kebutuhan energi Singapura.

Meski demikian, pemerintah belum menetapkan waktu pelaksanaan ekspor listrik ke negara lain, termasuk Singapura. Kecukupan pasokan untuk kebutuhan domestik dan kesepakatan harga yang sesuai dengan kepentingan Indonesia masih menjadi pertimbangan utama.

AL
Ayu LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update